Tampilkan postingan dengan label Cerpen Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Mei 2010

MENANTI BANGAU TERBANG LEWAT

Teng !…jam dinding berdentang satu kali. Malam semakin larut, tapi Anis masih duduk di ruang tengah. Sejak tadi matanya sulit terpejam. Baru beberapa jam yang lalu Ibu Mas Iqbal, suaminya, menelepon, "Nis, Alhamdulillah, barusan ini keponakanmu bertambah lagi..." suara ibu terdengar sumringah di ujung sana.

"Alhamdulillah…, laki-laki atau perempuan Bu ?" Anis tergagap, kaget dan senang. Sudah seminggu ini keluarga besar Mas Iqbal memang sedang berdebar-debar menanti berita Dini, adik suaminya, yang akan melahirkan.

"Laki-laki, cakep lho Nis, mirip Mas mu waktu bayi…" Ibu tertawa bahagia. Dini memang adik yang termirip wajahnya dengan Mas Iqbal.

"Selamat ya Bu nambah cucu lagi, salam buat Dini, insya Allah besok pulang kerja Anis dan Mas Iqbal akan jenguk ke rumah sakit" janji Anis sebelum menutup pembicaraan dengan Ibu yang sedang menunggu Dini di rumah sakit.

Setelah menutup telpon Anis termenung sesaat. Ia jadi teringat usia pernikahannya yang telah memasuki tahun ke lima, tapi belum juga ada tangis si kecil menghiasi rumah mereka. Meskipun demikian ia tetap ikut merasa sangat bahagia mendengar berita kelahiran anak kedua Dini di usia pernikahan mereka yang baru tiga tahun.

"Koq melamun !…" Mas Iqbal yang baru keluar dari kamar mandi mengagetkannya. Ia memang pulang agak malam hari ini, ada rapat di kantor katanya. Air hangat untuk mandinya sempat Anis panaskan dua kali tadi.

"Mas, ibu tadi mengabari Dini sudah melahirkan, bayinya laki-laki" cerita Anis.

"Alhamdulillah...Dila sudah punya adik sekarang" senyum Mas Iqbal sambil mengeringkan rambutnya, tapi entah mengapa Anis menangkap ada sedikit nada getir dalam suaranya. Anis menepis perasaannya sambil segera menata meja menyiapkan makan malam.

Selepas Isya bersama, Mas Iqbal segera terlelap, seharian ini ia memang lelah sekali. Anis juga sebenarnya agak lelah hari ini. Ia memang beruntung, selepas kuliah dan merasa tidak nyaman bekerja di kantor, Anis memutuskan untuk membuat usaha sendiri saja. Dibantu temannya seorang notaris, akhirnya Anis mendirikan perusahaan kecil-kecilan yang bergerak di bidang design interior. Anis memang berlatar pendidikan bidang tersebut, ditambah lagi ia punya bakat seni untuk merancang sesuatu menjadi indah dan menarik. Bakat yang selalu tak lupa disyukurinya. Keluarga dan teman-teman banyak yang mendukungnya, akhirnya sekarang ia sudah memiliki kantor mungil sendiri tidak jauh dari rumahnya.

Dan, seiring dengan kemajuan dan kepercayaan yang mereka peroleh, perusahaannya sedikit demi sedikit mulai dikenal dan dipercaya masyarakat. Tapi Anis merasa itu tidak terlalu melelahkannya, semua dilakukan semampunya saja, sama sekali tidak memaksakan diri, malah menyalurkan hobi dan bakatnya merancang dan mendesign sesuatu sekaligus mengisi waktu luangnya. Beberapa karyawan cekatan sigap membantunya. Malah sekarang sudah ada beberapa designer interior lain yang bergabung di perusahaan mungilnya. Itu sebabnya sesekali saja Anis agak sibuk mengatur ketika ada pesanan mendesign yang datang, selebihnya teman-teman yang mengerjakan. Waktu Anis terbanyak tetap buat keluarga, mengurus rumah atau masak buat Mas Iqbal meski ada Siti yang membantunya di rumah, menurutnya itu tetap pekerjaan nomor satu. Anis juga bisa tetap rutin mengaji mengisi ruhaniahnya. Namun karena kegiatannya itu, biasanya ia tidur cepat juga, tapi malam ini rasa kantuknya seperti hilang begitu saja. Berita dari ibu tadi membuat Anis teringat lagi. Teringat akan kerinduannya menimang si kecil, buah hatinya sendiri.

Lima tahun pernikahan adalah bukan waktu yang sebentar. Awalnya Anis biasa saja ketika enam bulan pertama ia tak kunjung hamil juga, ia malah merasa punya waktu lebih banyak untuk suaminya dan merintis kariernya. Seiring dengan berjalannya waktu dan tak hentinya orang bertanya, dari mulai keluarga sampai teman-temannya, tentang kapan mereka menimang bayi, atau kenapa belum hamil juga, Anis mulai khawatir. Fitrahnya sebagai wanita juga mulai bertanya-tanya, apa yang terjadi pada dirinya, atau kapan ia hamil seperti juga pasangan-pasangan lainnya… Atas saran dari banyak orang Anis mencoba konsultasi ke dokter kandungan. Seorang dokter wanita dipilihnya. Risih juga ketika menunggu giliran di ruang tunggu klinik, pasien di sekitarnya datang dengan perut membuncit dan obrolan ringan seputar kehamilan mereka. Atau ketika salah seorang diantara mereka bertanya sudah berapa bulan kehamilannya.

"Saya tidak sedang hamil, hanya ingin konsultasi saja…" senyum Anis sabar meski dadanya berdebar, sementara Mas Iqbal semakin pura-pura asyik dengan korannya. Anis bernafas lega ketika dokter menyatakan ia sehat-sehat saja. Hindari stress dan lelah, hanya itu nasehatnya.

Setahun berlalu. Ditengah kebahagiaan rumah tangganya ada cemas yang kian mengganggu Anis. Kerinduan menimang bayi semakin menghantuinya. Sering Anis gemas melihat tingkah polah anak-anak kecil disekitarnya, dan semakin bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dirinya. Setelah itu mulailah usaha Anis dan suaminya lebih gencar dan serius mengupayakan kehamilan. Satu demi satu saran yang diberikan orang lain mereka lakukan, sejauh itu baik dan tidak melanggar syariat Islam. Beberapa dokter wanita juga kadang mereka datangi bersama, meski lagi dan lagi sama saja hasilnya. Sementara hari demi hari, tahun demi tahun terus berlalu.

Kadang Anis menangis ketika semakin gencar pertanyaan ditujukan padanya atau karena cemas yang kerap mengusik tidurnya. Mas Iqbal selalu sabar menghiburnya "Anis...apa yang harus disedihkan, dengan atau tanpa anak rumah tangga kita akan berjalan seperti biasa. Aku sudah sangat bahagia dengan apa yang ada sekarang. Insya Allah tidak akan ada yang berubah dalam rumah tangga kita…" goda Mas Iqbal suatu ketika seperti bisa membaca jalan pikirannya. Suaminya memang tahu kapan Anis sedang mendalam sedihnya dan harus dihibur agar tidak semakin larut dalam kesedihannya. Di saat-saat seperti itu memang cuma suaminya yang paling bisa menghiburnya, tentu saja disamping do'a dan berserah dirinya pada Allah. Kadang Anis heran kenapa Mas Iqbal bisa begitu sabar dan tenang, seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi. Dia selalu ceria dan optimis seperti biasa. Apakah memang pria tidak terlalu memasukkan unsur perasaannya atau mereka hanya pintar menyembunyikan perasaan saja? Anis tidak tahu, yang pasti sikap Mas Iqbal banyak membantu melewati masa-masa sulitnya.

Sebenarnya Anis juga bukan selalu berada dalam kondisi sedih seperti itu. Sesekali saja ia agak terhanyut oleh perasaannya, biasanya karena ada faktor penyulutnya, yang mengingatkan ia akan mimpinya yang belum terwujud itu. Selebihnya Anis bahagia saja, bahkan banyak aktivitas atau prestasi yang diraihnya. Buatnya tidak ada waktu yang disia-siakan. Selagi sempat, semua peluang dan kegiatan positif dilakukannya. Kadang-kadang beberapa teman menyatakan kecemburuannya terhadap Anis yang bisa melakukan banyak hal tanpa harus disibuki oleh rengekan si kecil. Anis tersenyum saja.

Anis juga tidak pernah menyalahkan teman-temannya kalau ketika sesekali bertemu obrolan banyak diisi tentang anak dan seputarnya. Buatnya itu hal biasa, usia mereka memang usia produktif. Jadi wajar saja kalau pembicaraan biasanya seputar pernikahan, kehamilan, atau perkembangan anak-anak mereka yang memang semakin lucu dan menakjubkan, atau cerita lain seputar itu. Biar bagaimanapun Anis menyadari menjadi ibu adalah proses yang tidak mudah dan perlu belajar atau bertukar pengalaman dengan yang lain. Tapi kadang-kadang, sesekali ketika Anis sedang sedih, rasanya ia tidak mau mendengar itu dulu. Anis senang juga jika ada yang berusaha menjaga perasaannya diwaktu-waktu tertentu, dengan tidak terlalu banyak bercerita tentang hal tersebut, bertanya, atau malah menyemangati dengan do'a dan dukungan agar sabar dan yakin akan datangnya si kecil menyemarakkan rumah tangganya.

Anis tersadar dari lamunannya. Diminumnya segelas air dingin dari lemari es. Sejuk sekali. Meskipun malam tapi udara terasa pengap. Ditambah lagi berwudhu ditengah malam, melunturkan sebagian besar kemelut dalam dadanya. Setelah membangunkan suaminya, Anis shalat malam berdua. Di akhir shalat air mata Anis membasahi sajadahnya. "Rabbi..., ampunilah dosa-dosa kami, jangan beri kami cobaan yang tidak kuat kami menanggungnya. Beri kami kekuatan dalam menjalani semuanya. Perkenankan kami memiliki buah hati pewaris kami, penerus kami dalam menegakkan Dien-Mu. Hanya ridha-Mu yang kami cari. Sungguh tidak ada yang lain lagi...". Selesai shalat Anis terlelap. Dalam mimpinya ia bermain bersama beberapa gadis kecil. Senang sekali.

*****

Suatu siang di kantornya, Anis sedang merancang sebuah ruang pameran. Ada festival Islam yang akan digelar, mungkin karena tidak banyak designer interior berjilbab rapi seperti Anis, ia dipercaya merancangnya. Ketika sedang mencorat-coret gambar, Fitri mengejutkannya, "Mbak Anis, ada tamu yang mau bertemu".

"Dari mana Fit ?" tanya Anis.

"Katanya dari Yayasan Amanah, mbak, mau menawarkan kerja sama".

"Iya deh, saya kedepan sepuluh menit lagi" jawab Anis.

Setelah bincang-bincang dengan tamunya akhirnya Anis menyepakati kerja sama menyantuni beberapa anak-anak yatim yang diasuh yayasan tersebut. Anis memang selalu menyisihkan rezkinya untuk mereka yang membutuhkan. Perusahaan mungil yang dikelolanya selalu berusaha menjalankan syariat Islam.

Sejak itu Anis punya kegiatan baru, menyantuni dan mengasuh beberapa anak yatim bersama yayasan tersebut. Tidak banyak kegiatan sebenarnya, hanya laba perusahaan kecilnya yang tidak seberapa disisihkan sebagian untuk disalurkan sebagai beasiswa untuk beberapa anak-anak tersebut. Itupun setelah dimusyawarahkan dengan semua teman-teman dan disetujui bersama. Tapi banyak hikmah yang Anis dapatkan. Sesekali Anis jadi bertemu dan bersahabat dengan mereka. Anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya sehingga tidak seberuntung yang lain, yang mendapat curahan perhatian dan kasih sayang berlimpah dari orang tua. Mereka memang kurang beruntung, tapi kesabaran dan ketegaran mereka membuat Anis malu menyadari dirinya yang rapuh, mudah mengeluh dan sedih. Anis jadi menyadari betapa sebenarnya karunia yang diberikan Allah padanya begitu banyak dan berlimpah. Kalaupun ada satu atau dua hal yang luput, itu tidak seberapa dibandingkan dengan yang ia telah dapatkan. Anis jadi menata dirinya untuk lebih sabar dan banyak bersyukur. Dengan banyak bersyukur tentu Ia akan lebih banyak memberikan lagi nikmat-Nya.

*****

"Bu Anis, kuenya enak sekali..." puji Ina tulus. Mata polosnya bersinar senang. Ia memang anak yang manis, kelas 5 SD dan selalu ranking satu di kelasnya, ibunya hanya penjual gado-gado dengan tiga orang anak, sementara ayahnya sudah meninggal sejak Ina kelas satu. Minggu pagi cerah ini Anis memang mengundang beberapa anak asuhnya ke rumah beserta beberapa orang pengurus yayasan. Sejak kemarin ia dan Mas Iqbal pontang-panting menyiapkan semuanya. Sebenarnya bisa saja Anis pesan makanan, tapi entah kenapa ia ingin menyiapkan sendiri, untungnya Mas Iqbal setuju dan membantunya penuh.

"Bu Anis, sup nya Farouk tumpah...." jerit Atikah nyaring.

Anis sibuk melayani mereka, Mas Iqbal juga tak kalah repot. Sekarang Anis memang semakin dekat dengan mereka, ia berusaha memberikan kasih sayang dan perhatian atau bimbingan semampunya. Mereka banyak membuka mata dan hatinya. Anak-anak malang yang membutuhkan kasih sayang dan bimbingan.

Selesai acara Anis kecapekan luar biasa, anak-anak itu terkadang manja dan mencari perhatiannya saja, tapi Anis senang. Tamu-tamu kecil itu menyemarakkan rumahnya.

Keesokan paginya Anis bangun agak siang. Selesai shalat subuh dan menyiapkan keperluan Mas Iqbal, ia tertidur lagi. Suaminya berangkat kerja tanpa pamit, kasihan pada Anis yang sepertinya masih kelelahan. Anis sendiri tidak pergi kerja hari ini, ia sudah izin sebelumnya.

Jam setengah delapan pagi Anis terbangun oleh dering telepon dari ibunya.

"Anis, selamat ulang tahun ya…semoga semakin bertambah keimanannya, sehat, bahagia dan cepat mendapatkan momongan", ujar ibu mendo'akan.

"Terima kasih ya, Bu" Anis tersadar bahwa hari ini usianya bertambah lagi. Sebenarnya ia tak pernah menganggap istimewa, tapi kalau ada yang ingat ya senang juga.

"Masih sering sedih nggak?..." Ibu menggodanya. Selain Mas Iqbal memang ibu yang paling memahami perasaannya dan tentu saja yang paling sering menghibur dan mendo'akannya.

"Ingat lho Nis, apa saja yang kita dapatkan itu sudah hasil seleksi dari sana dan itu adalah yang terbaik untuk kita. Kita harus ikhlas, sabar, dan senang menerimanya. Istri-istri Rasululloh pun ada yang tidak diberi momongan dan itu bukan dosa. Yang penting kita tak putus usaha dan berdo'a, bagaimana hasilnya biar Allah saja yang menentukan", ibu menasehati.

"Iya Bu" jawab Anis hampir tak terdengar. Ia terharu ibu selalu memperhatikan dan menghiburnya.

Setelah menutup telpon dari ibu Anis dikejutkan lagi oleh selembar surat di meja, yang ini ucapan selamat dari Mas Iqbal rupanya. Anis tersenyum membacanya tapi matanya akhirnya basah juga. Suaminya memang selalu sabar dan penuh perhatian, tak pernah sekalipun ia menyakiti hati Anis, kalaupun ada perbedaan pendapat selalu ia selesaikan dengan bijak. Tiba-tiba Anis merasakan lagi betapa besar nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya. Rasanya tidak ada lagi alasan untuk bersedih, apalagi putus asa. Kalau memang sudah tiba waktunya dan baik untuknya, tentu harapan dan do'anya akan dikabulkan. Ia yakin tidak akan ada do'a dan usaha yang sia-sia. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, tidak mungkin Ia mendzholimi hamba-Nya dan Ia yang akan mengabulkan do'a. Insya Allah mungkin esok hari. Ya, siapa tahu… (er)

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui." (Al Ankabuut, 64)

Selamat Jalan “The Champion”

Wajah tirus Hani dengan kepala tak berambut sedikit bergerak. Mata cekung, dulu jenaka yang menyimpan banya keceriaan dan keoptimistisan, kini ia memandangku dan mengerjap dengan layu . Seakan-akan ada yang ingin diungkapkannya. Kuhampiri tubuh yang lemah itu, dan kugenggam tangannya.

"Ada apa, Han..?"

Suara tilawah Al Quran Mama terhenti ketika menyadari ada sesuatu yang diminta Hani.

"Kenapa, sayang..? Ada yang sakit?." Tanya mama dengan suara parau.

Sudah sekian hari, Mama memang banyak menangis untuk Hani. Di tiap-tiap malamnnya, Mama mengucurkan air mata, memohon kepada Allah, untuk mau mendengar "bargaining" di dalam doa-doa Mama. Agar Allah mau mengulur waktu untuk Hani sampai beberapa waktu saja. Mulut Hani bergerak-gerak, kudekatkan telingaku pada wajahnya, agar dapat menangkap apa yang diungkapkannya.

"Asy..ha..du alla..."

Tiba-tiba aku menyadari "waktu itu" sudah dekat. Ku menoleh pada Mama, ia seperti mengerti. Lalu Mama bergegas menuju pintu, memanggil Papa, dan Aria, adik iparku. Dua orang laki-laki, yang akan kehilangan orang yang dicintai itu, segera masuk dan menanti apa yang terjadi kemudian. Kupakaikan kerudung putih pada kepala tanpa rambut yang melemah itu. Kulakukan ini karena pesan terakhir Hani, jika "saatnya" tiba ia tidak mau dalam keadaan "telanjang" menghadap Allah. Papa tampak ikhlash, begitu juga Aria. Lalu Aria menyerahkan Umar, keponakanku yang belum genap satu tahun usianya, kepadaku.

"Tolong, Mbak..Biar saya yang menjaga dik Hani."

Umar tetap tertidur pulas, walaupun posisi gendongan berpindah, dia tidak terbangun sedikit pun. Bocah kecil sebelas bulan ini tak menyadari, bahwa sebentar lagi, ibunya akan segera meninggalkannya. Dokter Ruslan bergegas masuk untuk melakukan tugasnya sebagai dokter.

"Biarlah, dokter..Insya Allah Kami sudah ikhlash..". Suara tegar Papa berkata.

Dokter Ruslan mengangguk seraya berkata,

"Mudah-mudahan anak bapak diberi kemudahan oleh Allah.."

Perlahan-lahan, Aria membantu Hani membacakan syahadah di telinga Hani. Kemudian mulut Hani bergerak-gerak dengan mudah. Dan genggaman tangannya tampak mulai melemah. Ada butiran air mata yang bergulir dari matanya yang terpejam.

"Sakitkah adikku, sayang?", batinku dengan penglihatan kabur karena terhalang airmata. Aku menatap wajah Hani yang sedang bertarung melepas nyawa.

Nafas Hani satu-satu, jaraknya makin lama makin panjang. Papa dan Mama membaca syahadah berkali-kali. Dan akhirnya nafas Hani pun terhenti...

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun..."

*****

Hanifah, adikku, Hani begitulah dia dipanggil. Umurnya berbeda 4 tahun dariku. Tapi Hani, perawakannya yang tinggi, lagaknya yang tomboy serta rambutnya yang berpotongan pendek, membuat orang-orang sering salah terka. Mereka mengira Hani, cowok, jika melihatnya sepintas dari belakang. Aku teringat, teman-teman cowok sekampus meledekku ketika aku mengajak Hani hadir ke Baksos Mesjid kampus.

Mereka, yang relatif tahu aku adalah " Si jilbab galak", meledekku,

"Wah kemajuan nih, Adelina...Ternyata berani juga mengajak cowoknya ke kampus.."

Mendengar itu aku geli, tapi tidak demikian dengan Hani.

"Siapa yang berani ganggu Mbak Adelina?". Tanya Hani berbalik sewot menghadapi teman-teman cowokku yang iseng tadi.

Seketika mereka terpana, menyaksikan bahwa "cowok" Adelina adalah cewek manis yang tak kalah galak dari kakaknya.

Itulah Hanifah. Siapa pun 5 tahun lalu, tak akan mengira dia akan memakai jilbab. Hani menikah di usia muda, bahkan mempunyai anak.

Kami 3 bersaudara, Mas Ardi, aku, dan si bontot Hanifah. Karena pendidikan orang tuaku yang demokratis dan bijaksana, kami bersaudara sangat rukun dan saling sayang satu sama lain. Dan lebih dari itu, kami saling mempengaruhi satu sama lain. Ketika Mas Ardi harus kuliah di Bandung, aku dan Hani menangis, karena kehilangan "bodyguard" yang selalu mengantar kami kemana-mana. Hani memaksaku, agar tak ikut-ikutan pilih universitas yang harus meninggalkan rumah seperti Mas Ardi.

Setiap pulang, Mas Ardi selalu membawa banyak perubahan. Tahun pertama ketika aku SMA, Mas Ardi masih suka merokok di sela-sela menggambar tugas arsiteknya. Namun setelah itu, Mas Ardi lambat laun menghilangkan kebiasaan merokonya. Setiap pulang semesteran Mas Ardi banyak membawa majalah-majalah dan buku-buku Islam. Mas Ardi mulai mengajak kami, adik-adiknya, shalat berjamaah dan membaca Al Quran bersama di rumah. Alhamdulillah, pada saat itu aku berhasil masuk FE UI, sehingga tak perlu meninggalkan rumah seperti Mas Ardi. Setelah menjadi mahasiswi juga mungkin imbas yang kuat dari Mas Ardi, aku mulai mengenal Islam. Aku mulai mencari-cari untuk apa sebenarnya aku hidup. Dan, Alhamdulillah, aku menemukannya dalam aktivitas keislaman yang aku ikuti di kampus.

Namun yang aku heran, imbas tersebut tak mengenai Hani sama sekali. Hani tetap saja tomboy, dan malas jika aku ajak pergi ke pengajian. Walaupun demikian, Hani adalah adik kebanggaanku. Di antara lagaknya yang tomboy dan sikapnya yang manja di rumah Hani adalah juara kelas di sekolahnya, dan kapten di grup basketnya. Sifatnya yang tak ingin kalah dari orang lain, dan serius ketika menekuni sesuatu, membuat dia bisa menjadi sukses dalam bidang yang disenanginya, seperti pelajaran atau basket.

Aku masih ingat, ketika untuk pertama kalinya dia harus mendapat rangking ketiga di kelasnya. Hani menangis di kamar seharian. Tapi, yang ini juga sifat Hani yang membanggakan, Hani cepat bangkit dari keterpurukan. Dengan menyetel kaset grup Queen idolanya, yang berisikan lagu we are the champion, Hani membangunkan semangatnya sendiri, dan dia bisa ceria lagi keesokan harinya.

Hingga pada suatu hari, Hani menemukan hidayah itu... Di balik kegagahan dan ketomboyannya, aku tahu ada sebongkah hati yang tulus dan lembut. Dan itu terbukti ketika aku mengikutsertakan Hani ke kegiatan baksos di kampus untuk ketiga kalinya. Kala itu dia kelas 3 SMA. Hani masih tetap dengan rambut cepak, kaus t-shirt putih, dan celana jeans hitam kebangsaannya. Di baksos itu kami memang mengumpulkan baju-baju bekas untuk kaum tak punya. Hani memang punya banyak baju yang sudah tak dipakainya. Tapi sayang, baju-bajunya selalu dikelompokkan untuk bocah laki-laki.

Beberapa jilbab dan baju muslimah ku sisihkan khusus.

"Untuk siapa, Mbak..?" . Tanya Hani

"Ini untuk Mbok Siyem, yang jualan rokok di depan mesjid. Katanya anaknya yang SMP juga pakai jilbab.". Terangku

"Oooo.."Hani membundarkan mulutnya.

Baksos belum mulai ketika aku dan Hani tiba di depan mesjid kampus. Karena masih ada waktu aku bergegas menemui Mbok Siyem yang selalu mangkal di dekat masjid. Tapi aku terkejut ketika aku tak menemui Mbok Siyem seperti biasa. Hanya Ijah, anaknya, yang menunggui warung.

"Lo, Mbok Siyem kemana..?"Tanyaku pada Ijah.

Ijah, bocah kecil kelas dua SMP itu, menjawab,"Mbok sedang sakit. Dari kemarin muntah-muntah." Ijah tak tampak sedih, malah tampak biasa saja.

"Ini Mbak bawakan baju buat Ijah, kemarin-kemarin si Mbok wanti-wanti meminta untuk membawakannya untukmu." Wajah Ijah yang tadi tampak biasa-biasa saja, kini tampak haru. Ijah menangis.

"Mbok bilang, kalau Ijah sabar dan ikhlash dengan dua baju, pasti Allah akan memberikan lebih. Dan ternyata benar..." Katanya terisak, mengusap ingus yang keluar dengan jilbab coklatnya, yang ku ingat adalah pemberianku setahun lalu.

Setelah baksos selesai, kami menjenguk Mbok Siyem, yang bukan kepalang terkejut dengan kedatangan kami. Waktu itu Mbok Siyem kelihatan sehat, tak seperti orang sakit. Walau beberapa hari setelah itu Mbok Siyem meninggal dunia..

Peristiwa itu rupanya terpatri dalam di kalbu Hani. Sejak hari itu, Hani segera memakai kerudung. Tak ada yang menyuruh,tak ada yang meminta. Sehingga Mama melongo, melihat bontotnya menjadi feminin seketika. Lalu siapa yang sangka Hani menjadi akhwat seperti sekarang? Dulu dia memang senang basket, sampai poster Michael Jordan memenuhi tembok kamarnya. Dulu dia memang senang Queen, sampai tak ada lagu-lagunya yang tak dihapalnya. Tapi beberapa bulan setelah mengaji, Hani melepas semua poster-poster tersebut, dan mendepak kaset-kaset lagu hingar bingar itu. Walau aku tahu, Hani menangis semalaman untuk berpisah dengan segala hobi dan kesenangannya. Tapi itulah Hani, esok selalu disambutnya dengan penuh semangat menantang dan keoptimisan.

Dan perkembangannya yang luar biasa setelah aktif mengaji, sering membuat aku dan Mas Ardi terharu. Sampai puncaknya pernikahan Hani 4 tahun lalu...Papa marah, Mama kesal, karena Hani dianggap mendahului aku dan Mas Ardi. Apalagi Hani masih 19 tahun dan masih tingkat dua...! Namun Alhamdulillah berkat diplomasiku dan Mas Ardi, bahwa kami rela didahului, akhirnya Hani melangsungkan pernikahannya.

Hani, kehidupannya menggapai hidayah seperti berlari. Bahkan ketika Allah menentukan dia harus menderita leukimia di usia 21 tahun. Kegalauan keluarga kami untuk memberitahukan Hani atau tidak, bahwa sakit-sakit tulang yang sering Hani keluhkan bukanlah sakit biasa. Kesedihan kami yang luar biasa, karena mengetahui Hani tak akan lama bersama kami lagi, mengingat dokter sendiri berkata belum ada penyembuhan yang jitu untuk penyakit kanker yang satu ini.

Sehingga akhirnya keluarga kami bertekad untuk mengungkapkan secara jujur penyakit Hani. Ini pun karena ada sebab yang luar biasa. Hani ternyata hamil 4 bulan waktu itu. Aria datang memberitakan kabar gembira yang timingnya buruk itu kepada keluarga kami. Kami tak tahu, apakah harus menyambut kabar ini dengan senang atau bersedih. Karena melahirkan anak adalah hal yang tak mungkin bagi Hani, karena akan memperlemah kondisi Hani. Namun, saat itu tak ada yang bisa menyetop Hani. Bahkan ketika kami memberitahukan bahwa hamil dan melahirkan kemungkinan besar akan mempertaruhkan nyawanya. Hani bersikeras untuk hamil dan melahirkan.

"Mama juga waktu hamil kami bertiga tak pernah memikirkan keselamatan nyawa Mama sendiri bukan..? Ayolah, Ma.. Jangan larang Hani, tapi bantu Hani dengan doa, agar Hani diberi kekuatan dan kesehatan oleh Allah. Dan jika harus meninggal pun, Hani meninggal dalam keadaan syuhada bukan..? Tapi Ma, Pa, Hani ingin hidup, paling tidak sampai anak ini lahir.."

Dan Allah memang Maha Besar dan Maha Pengasih. Semangat dan keoptimisan Hani memberi bekas yang dalam kepada orang di sekelilingnya. Sejak kehamilan Hani, Mama dan Papa menjadi lebih banyak beribadah. Mama memakai jilbab, banyak membaca Al Quran. Begitu pula Papa, setiap Senin dan Kamis tak ada yang terlewat dengan shaum, juga tahajud. Bahkan aku pun menikah ketika Hani sedang rawat intensif di rumah sakit. Hani selalu berkata, ingin melihatku
menjadi mempelai sebelum dia menutup mata.

Dan Allah menjawab semua doa-doa dan harapan kami. Hani dapat melahirkan Umar dengan selamat, layaknya orang normal. Walau untuk itu Hani menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sakit, dan kami selalu dibuat cemas akan keselamatan Hani sendiri.

Ya, dua tahun Hani berperang melawan leukimia. Tapi tak pernah terungkap dalam ucapannya, bahwa dia menyesali nasibnya karena harus menderita penyakit ini. Bahkan dia kerap berujar,

"Allah sayang kepada Hani, ya, Mbak...Sehingga Allah memberi batas waktu
yang jelas untuk Hani beraktifitas di dunia ini. Agar tak sia-sia..."

Ah, Hani sayang....

**************

Pekuburan sudah sepi, gundukan tanah merah di depanku mulai dibasahi oleh gerimis kecil yang turun satu-persatu. Kulihat isyarat lambaian tangan Mas Ardi yang berada di rombongan Mama, Papa, serta keluarga Aria mengajakku untuk pulang. Bang Irsyad, suamiku memberikan tangannya.

"Insya Allah Hani syahidah, De...Karena Hani begitu pasrah dan tawakal kepada Allah dengan penyakitnya."Hiburnya. Aku mengangguk.

Di tanganku ada setumpuk amplop yang ditujukan pada Umar. Surat dari Ibunya. Aku teringat percakapan kami 5 bulanan lalu.

"Ini sebagai hadiah buat Umar setiap umurnya bertambah satu tahun, Mbak... Aku persiapkan 15 surat, untuk Umar. Agar Umar selalu mendapat nasehat dariku walaupun aku sudah tak bisa menyaksikan Umar tumbuh sampai dia baligh dan mengerti. Aku titipkan pada Mbak Ade, ya..?". Hani menyerahkan tumpukan amplop itu padaku.
"Kenapa tak kau titipkan pada Aria, bukankah dia yang lebih berhak...?" Hani
tersenyum.

"Mas Aria harus mencari pengganti Hani untuk mendidik Umar, bukan..? Tentu tidak bijak kalau Mas Aria mengingat Hani terus, dan melupakan hal yang satu itu". Katanya diluar dugaan. Lalu,

"Mbak..., aku ingin Umar mempunyai sifat gabungan dari kita bertiga. Perhatian seperti Mas Ardi, tegas dan lembut seperti Mbak Ade, enerjik dan jenaka seperti ibunya..."

"Laa..Aria bagaimana, dong..?"tanyaku menahan geli...

"Iya ditambah ganteng dan shaleh seperti bapaknya.."tawanya jenaka.

Mataku kembali basah. Di detik-detik terakhir kehidupannya, Hani tak pernah menampakkan keputus asaan. Dia tetap optimis, bahwa Allah memberikannya penyakit sebagai ujian, maka dia harus lulus, dan bertawakal untuk jadi pemenangnya. Ya...Juara itu telah pergi, Syuhadah itu telah pergi, pergi tanpa beban dan tanpa keputus asaan. Pergi meninggalkan sebongkah kesan dan bekas cinta yang mendalam.

Selamat jalan the champion...

Tiba Saatnya

Bukan Tami namanya kalau tidak bisa menyelesaikan liputannya dalam waktu singkat. Sesaat setelah menyimpan tulisannya di hard disk notebooknya, ia mematikan komputer seraya menghirup teh manis hangatnya. Sekarang tinggal menyerahkannya ke Mas Iqbal, redaktur liputan politik, bereslah tugasnya. Di luruskannya punggungnya yang kaku. Kemudian mengambil jaketnya yang tersampir di kursi. Diliriknya jam yang melingkari pergelangan tangannya, ah baru jam 10 malam, kemarin dia pulang hampir tengah malam. Kemarinnya lagi juga begitu.

Tami menyapa beberapa temannya yang masih asyik di depan komputer. Pasti mereka dikejar deadline tulisan juga pikirnya. Beberapa orang terlihat lelap dikursi, sementara layar monitornya masih menyala. Kalau sudah malam begini memang hanya tinggal beberapa orang saja yang masih ada di kantor. Biasanya para reporter yang dikejar deadline atau mereka yang memang tugasnya menyelesaikan proses naik cetak surat kabar agar sampai di tangan pembaca besok pagi. Bekerja sebagai wartawan memang tidak mudah, jam kerja yang tidak menentu, narasumber yang sulit dihubungi, semua membuat mereka kadang harus rela begadang. Tami juga sering begitu. Setelah pamit untuk pulang, ditekannya magnetic-card seraya menguap. Ah, penat juga rasanya. Didalam lift menuju lantai dasar sesaat Tami memejamkan matanya, lelah.

Pak Madi, satpam kantor menyapanya ramah di pintu keluar. Pulang Mbak? Hati-hati di jalan...". Tami tersenyum sambil melambai. Pak Madi memang satpam tertua di kantornya dan sudah lama juga ia mengabdi di kantor tempat Tami bekerja. Bahkan sejak Tami belum bekerja di situ. Menurut teman-teman sejak perusahaan surat kabar ini didirikan hingga sekarang sudah menjadi perusahaan besar dengan oplag ratusan ribu eksemplar perhari dan tersebar diseluruh pelosok negeri. Itu sebabnya Pak Madi mengenal baik seluruh karyawan dikantor Tami.
Sesaat kemudian Tami sudah berada dalam Katana merahnya. Disusurinya jalan-jalan ibukota yang mulai lengang, sementara gerimis masih rinai sejak sore tadi. Ibu seperti biasa pasti belum tidur karena cemas menungguku pulang, pikir Tami. Ibu juga sering mengeluh, katanya pekerjaan wartawan sama saja dengan seniman, tidak punya ritme kerja yang jelas. Sering tidur malam dan bangun siang. Angin malam bertiup perlahan, sepotong bulan mengintip di langit gelap. Tami ingin segera sampai di kamar tidurnya. *****

Rapat redaksi hari ini sungguh membosankan sekali. Tidak seperti biasanya Tami terduduk lesu di kursinya. Dia tidak berselera mengikuti debat redaksi kali ini. Mungkin Tami lelah, akhir-akhir ini kondisi politik tidak menentu, berbagai macam issue bermunculan, begitu banyak berita dan nara sumber yang harus dikejar tapi semua sering membingungkan, tidak jelas mana yang benar. Hari-hari ini Tami sering merasa terkecoh. Sebagai reporter bidang liputan politik jelas kondisi sekarang melelahkan sekali. Apalagi Tami tergolong reporter andalan di kantornya. Ia sudah mulai bekerja sejak masih kuliah. Itu sebabnya dia cukup terlatih dan berpengalaman. Belum lagi memang Tami punya banyak kelebihan, cerdas dan cekatan. Hasil liputannya selalu mengagumkan. Tulisan- tulisannya pun tak pernah membosankan dengan analisa yang dalam. Karena itu Tami cukup diperhitungkan oleh perusahaan. Masa depan cerah, begitu goda teman-temannya. Tapi Tami tidak peduli, yang penting ia menyukai bidang pekerjaannya. Apalagi perusahaan memberinya imbalan lebih dari cukup atau setidaknya sebandinglah dengan kerja kerasnya.

Selesai rapat Tami kembali ke mejanya. Dia bersyukur karena Mas Iqbal tidak memberinya tugas liputan hari ini, itu berarti ada waktu luang sejenak karena beberapa tugas sudah diselesaikannya semalam. Sesaat dibukanya komputer di meja kerjanya. Ada beberapa email yang masuk, termasuk dari Nisa sahabatnya sejak di bangku kuliah. Tami membaca pesan singkat, "Tami yang sholihat..., pekerjaan seorang wanita harus dapat menunjang bertambahnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan hendaknya kita tetap memiliki ahlak yang baik dan mampu menjaga diri". Tami tertegun, lagi-lagi Nisa mengingatkannya.

Sambil menikmati es jeruknya, Tami melepas kebosanan di kantin kantor. Di saat bukan jam makan seperti ini, kafe memang tidak begitu ramai. Ia bisa lebih tenang sambil memandang taman gedung yang asri. Sesaat email Nisa mengganggu pikirannya. Unik memang persahabatan mereka, sejak masih di universitas mereka sering jalan dan diskusi bersama, tapi Nisa berbeda, kerudung dan sikapnya membedakan ia dengan yang lainnya. Sampai sekarang pun mereka masih bersahabat meski tidak sering lagi bertemu. Nisa sekarang menjadi dosen di universitas mereka dulu. Dibandingkan Tami, dari segi penghasilan jelas Nisa tertinggal jauh. Tami sering heran kenapa Nisa tidak mencoba menawarkan ijazahnya ke perusahaan-perusahaan besar. Mereka sama-sama punya IPK yang tinggi, kemampuan bahasa asing yang baik, dan pengalaman organisasi yang segudang. Tentu tidak akan sulit juga buat Nisa mencapai lebih dari yang ia dapat sekarang. Nisa juga memang mahasiswi berprestasi dengan segala macam kelebihannya. Tapi setiap kali Tami menanyakan masalah ini pada Nisa, ia cuma tersenyum. "Aku ingin punya waktu lebih banyak buat Bang Hanif dan anak-anak..." begitu jawabnya. Nisa memang sudah menikah, bahkan sejak beberapa saat sebelum ia lulus kuliah. Sekarang sudah ada Ikhsan dan Urfi, buah hati mereka.

Tami mengakui persahabatannya dengan Nisa banyak memberinya hikmah. Sering disaat Tami lalai Nisa mengingatkannya. Tidak jarang saat Tami berada ditengah kesibukannya mengejar berita ada sepotong pesan Nisa lewat radio panggilnya "Waktunya Shalat Dzhur, Tam...", atau lewat email dan pesan-pesan singkat lain yang masuk di perekam telepon genggamnya. Nisa memang tidak pernah bosan mengingatkan meski Tami sangat sibuk dan sulit sekali dihubungi. Nisa bilang sesama saudara memang harus saling mengingatkan dalam kebaikan, itulah esensi persaudaraan dalam Islam. Pantas saja Nisa selalu gencar mengingatkannya. Sejak dulu Nisa memang sangat menginginkan kebaikan buat orang lain, meski dia sendiri sering repot dibuatnya. Ah, Nisa terbuat dari apa sih hatimu..bisik Tami. *****

Selasa siang di kantin kampus. Tami dan Nisa menikmati gado-gado favorit mereka berdua. Pedas- manis dengan harum perasan jeruk limau yang banyak. Dan tentu saja buatan Mbak Sum yang masih setia berjualan di kampus. Tidak putus obrolan mereka diselingi canda dan cerita nostalgia di bangku kuliah. Hari ini Tami memang mendapat tugas mewawancarai seorang tokoh pengamat politik yang juga pengajar di universitas mereka. Tentu saja kesempatan ini disambutnya dengan baik. Sekalian nostalgia di kampus dan bertemu teman-teman lama, Nisa terutama, pikir Tami. Kebetulan hari ini Nisa juga ada jadwal mengajar. Jadilah mereka janjian bertemu. Satu kesempatan langka ditengah kesibukan mereka masing-masing.

"Kelihatannya kamu tambah sibuk sekarang Tam. Hati-hati lho jangan terlalu asyik berkarier. Kapan menyusul aku dan Bang Hanif?" Nisa tersenyum memandangnya. "Ah, aku kan baru 29, masih banyak yang ingin aku kejar", Tami berkelit sambil pura-pura asyik mengaduk es kelapa mudanya. Pertanyaan yang sering ditanyakan ibu juga, pikirnya. "Tami, manusia perlu berikhtiar dan berencana, meski pada akhirnya Allah juga yang menentukan semuanya. Kalau kita sudah berikhtiar tapi belum juga mendapatkan, itu lain lagi ceritanya. Aku tidak ingin kamu menyesal Tam..". Nisa masih bijak seperti dulu, bahkan rasanya tambah dewasa sekarang. "Iya deh, aku memang terlalu asyik dengan pekerjaan. Jangan bosen ingetin aku ya...". Tami menyerah. Nisa memang benar. Ibu juga sering khawatir. Apalagi sekarang Tami sering mendapat tugas liputan beberapa hari keluar kota atau bahkan ke luar negeri. Seperti minggu lalu. Kesibukan Tami semakin padat.

Obrolan mereka siang itu semarak dengan berbagai topik. Termasuk tentang karier seperti yang sebenarnya sudah sering Nisa ceritakan. Tentang syarat-syarat wanita bekerja. Tentang keseimbangan antara pemenuhan hak keluarga dan pekerjaan. Tentang harus menghindari campur baur yang berlebihan. Tentang pakaian. Dan tentang pekerjaan yang harus sesuai dengan fitrah kewanitaan.
"Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa pekerjaan seorang jurnalis tidak baik dalam Islam. Tapi, please Tam..., semua ada aturan mainnya. Dien kita begitu sempurna mengatur semuanya. Jangan abaikan sinyal-sinyal itu. Untuk kebaikan kita juga", Nisa berbicara perlahan dan hati-hati sekali.

Entah mengapa siang itu semua terasa lain di telinga Tami. Sepertinya suara Nisa lain dari biasanya. Atau apa karena sebelumnya Tami tidak pernah terlalu menggubrisnya. Wah, apa jadinya kalau aku tidak bersahabat dengan Nisa. Mungkin aku sudah semakin terseret dengan segala macam kesibukan kerja, pikir Tami. Makan siang bersama di kafe itu jadi semakin nikmat rasanya.

Sementara suasana kampus masih seperti dulu. Selalu ramai, hidup dan meriah. Selalu ada wajah- wajah baru menggantikan yang lama. Datang dan pergi silih berganti. Ah, seperti juga kehidupan ini. Tidak ada yang abadi. Hanya Allah dan kehidupan kelak yang tidak akan pernah berubah. Kekal selamanya. Angin semilir menyentuh mereka. Matahari cerah di atas sana. Langit yang biru jernih berhias gumpalan-gumpalan awan putih yang menakjubkan. Indah. Seindah persahabatan mereka. "Allah lindungi kami dari cinta dunia, yang semakin menjauhkan kami dariMu, yang mengeraskan hati dan melupakan kami akan hari pertemuan dengan-Mu...".Doa Nisa di ujung shalat jamaah Dzhuhurnya bersama Tami. *****

Adzan Isya sudah agak lama berlalu. Langit gelap. Hujan gerimis perlahan menjadi lebat. Tami bergegas meninggalkan sebuah gedung. Sejak siang tadi dia menunggu seorang tokoh masyarakat di sana, ada berita yang harus dia buat sehubungan dengan peran tokoh tersebut di masyarakat. Dengan kelihaiannya, akhirnya Tami bisa juga bertemu tokoh tersebut, meski harus berbelit-belit dan menunggu cukup lama. Itulah konsekuensi pekerjaan, tapi aku puas bisik Tami, ada beberapa pernyataan yang bisa menjadi berita besar. Sekarang harus segera kembali ke kantor. Berita ini harus segera dirampungkan.

Tami berlari tergesa-gesa menuju tempat parkir. Halaman gedung sudah sepi dan agak gelap. Mungkin karena hujan dan suasana kota yang sedang tidak menentu. Orang-orang cenderung cepat pulang dan tidak keluar rumah jika tidak perlu benar. Ada cemas yang tiba-tiba menyelinap. Ah, kenapa tadi aku tidak pulang saja bareng teman-teman wartawan yang lain, sesal Tami. Mereka pulang lebih awal, tapi Tami bertahan, dia berharap masih bisa mendapatkan informasi tambahan. Tami bergidik, sesaat dia ingat berita-berita tentang kriminalitas ibukota yang meningkat, tentang preman-preman yang semakin nekat. Tapi aku harus pulang, keluhnya. Dia berlari menembus hujan. Tadi siang pelataran parkir gedung ini penuh mobil, karena tidak mau repot akhirnya Tami memutuskan parkir di sebelah gedung tersebut, sebuah bangunan besar yang sedang dikerjakan tapi agaknya terbengkalai tidak diteruskan, ditinggalkan separuh jalan. Puing-puing berserakan dimana- mana. Lagi-lagi Tami menyesal.

Di bawah pohon besar, di sisi sebuah bedeng tempat berteduh pekerja bangunan yang sepertinya sudah lama ditinggalkan begitu saja, Tami memarkir mobilnya. Tadi siang masih ada beberapa mobil lain yang parkir di situ juga, tapi malam ini tinggal satu saja, Katana merah Tami. Sesampainya di sisi mobil di bawah pohon, Tami sedikit bernafas lega. Dikibas-kibaskannya air hujan yang membasahi rambutnya. Jeans nya pun agak basah juga. Sesaat dia mendengar suara tawa-tawa dari dalam bedeng, Tami bergidik lagi segera ia memasukan anak kunci ke pintu mobilnya. Tiba- tiba ada beberapa lelaki keluar dari bedeng itu. Penampilannya seperti preman saja. Tami kaget, anak kunci jatuh dari tangannya, Tami meraba-raba di tanah. Gugup dan gelap semakin menyulitkan ia menemukannya.

"Cari apa Mbak ?",laki-laki itu mendekat. "Nggak...ggak...", Tami semakin gugup dan cemas. Perasaannya semakin tidak enak. "Jangan takut, kami mau bantuin koq", kata salah seorang diantara mereka diikuti tawa yang lain. Sekilas ada empat orang yang Tami lihat. Dua diantaranya berjalan limbung, mungkin karena pengaruh minuman keras. "Boleh juga..." Tami mendengar bisikan itu dari salah seorang diantara mereka. Ah, apa yang mereka inginkan, kamera Nikon besar yang aku pegang ini, atau ... Tami tersentak ketika salah seorang berusaha menyentuhnya. Seluruh tubuhnya lemas dan gemetaran, anak kunci belum juga ditemukan. "Apa-apain ini !",Tami berusaha menghardik dengan tegas. Tapi mereka semakin berani saja bahkan ada yang menarik tangannya, keras sekali. Tami berontak. Dengan segala kekuatan yang tersisa Tami menjerit minta tolong sekerasnya. Tapi Tami terlalu lemah, suaranya seperti ditelan puing-puing yang berserakan dan gemuruh hujan yang semakin deras. Tami terus meronta dan menjerit sekuatnya. Allah tolong saya..., jerita hatinya tak henti.

Sesaat tarik menarik terjadi diantara mereka. Di saat tenaga Tami sudah semakin habis dan lemah, tiba-tiba ada suara yang menyentak "Hei..ada apa ini? Siapa kalian!", ada dua orang berlari menghampiri mereka. Antara sadar dan tidak Tami mengenali dari seragamnya, satpam gedung sebelah. Di belakang mereka terlihat berlari beberapa orang lagi. Keempat lelaki setengah mabuk itu langsung berhenti menarik Tami. Tami terjatuh lemas. Tidak ada sedikitpun sisa tenaga lagi yang ia miliki. Bajunya koyak dan basah kuyup, tapi ia masih sempat bersyukur "Allah...terima kasih, alhamdulillah". Setelah itu, Tami tidak ingat apa-apa lagi.

Ketika sadar Tami sudah berada di suatu ruangan yang terang benderang. Ada beberapa orang di situ, termasuk seorang ibu yang sedang membersihkan lecet-lecet di lengannya. Tami tersentak ketika sadar dan ingat kejadian yang baru menimpanya. "Tenang Dik, sudah aman di sini..". Ibu itu mengusap rambutnya perlahan. Tami ingat ibunya di rumah, tangisnya tak terbendung lagi. Ibu itu memeluknya sambil menenangkan. Rupanya ia karyawati gedung yang kebetulan belum pulang kantor dan membantu merawatnya. "Sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, bersyukurlah kepada Allah karena Ia masih melindungi adik".Tami semakin terisak, pantaskah saya menerima pertolongan-Mu ya Allah..., shalat pun masih banyak yang saya tinggalkan. "Kalau ada yang sakit, mari saya antar ke dokter", ibu itu berkata lembut sambil menyodorkan segelas air putih. Tami menggeleng, meski kaki dan tangannya terasa memar-memar. Air putih itu memulihkan sedikit tenaganya. "Terima kasih, saya ingin pulang, Bu..."

Setelah lukanya diolesi betadine dan istirahat secukupnya, Tami pulang sendirian. Sebenarnya ibu yang baik hati dan suaminya, yang ternyata sekantor itu, memaksa ingin mengantarnya pulang. Tapi hari sudah terlalu malam, pasti anak-anak mereka sudah menunggu di rumah, pikir Tami. Apalagi arah rumah mereka berlawanan. Tami juga sudah merasa kuat dan lebih enak. Sakit karena lecet dan memar di sekujur tubuhnya terhapus oleh rasa syukurnya yang dalam. Tidak henti Tami mengucapkan terima kasih pada semuanya. Tami merasa berhutang budi sekali.

Malam semakin larut. Hujan sudah berganti terang. Namun sisa-sisa hujan masih menyisakan dinginnya. Bulan purnama yang tadi tertutup awan tebal, sekarang mulai berpendar-pendar. Jalan- jalan kota sudah semakin lengang meski dihiasi lampu-lampu jalan. Diperjalanan pulang, air mata menetes lagi di pangkuan Tami yang letih. Hatinya tak henti mengucap syukur kepada Allah. Mungkin benar kata Nisa, semua harus ada akhirnya... (er)

Syukur ...

"Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuuh...", terdengar ucapan salam suamiku dari beranda depan.
"Wa alaikum salam warohmatullahi wabarokatuuh", ku jawab salamnya dengan penuh lega.
Segera kusambut suamiku dengan senyum manis sembari membantu membawakan tas birunya yang lumayan berat. Sedari dua jam yang lalu, sudah kutunggu-tunggu kepulangannya. Padahal ini sudah seperti kebiasaan suamiku yang selalu pulang terlambat.
"Sudah makan Mas?", sergahku sambil tergopoh-gopoh membawakan tas birunya.
"Belum..", jawabnya singkat, terlihat kesan lelah di wajahnya yang putih bersinar. Rasanya tidak bosan-bosannya kupandang wajah suamiku yang telah menikahiku lima tahun yang lalu.
"Lah kok bisa belum makan?, tidak beli makanan di jalan?", tanyaku penuh khawatir.
"Lebih enak masakan istri tersayang dong", begitu jawabnya seraya mencubit hidungku yang tidak terlalu mancung.
"Aduhh Masku satu ini, masak ngga makan seharian?, kutimpali sambil menahan nafas karena pencetan di hidungku.
"Makan roti sedikit beli di warung, tapi belum makan berat, jadinya sekarang lapar sekali".
"Ganti baju dulu dan kita langsung makan yuk Mas", pintaku.
Makanan di meja makan sudah siap sedari tadi untuk disantap. Tidak ada banyak macam makanan dan tidak mahal pula, hanya bakwan jagung dan sayur botok kesukaan suamiku. Sengaja kusiapkan makanan kesukaanya, rasanya sudah lama tidak memasak makanan seperti itu.
"Sejak jam berapa anak-anak tidur?", tanyanya sambil membetulkan sarungnya didepan kamar tidur.
"Fathimah jam sembilan, sedang yusuf dari jam delapan". Mas Arman memang tidak pernah lupa menanyakan jadwal tidur buah hati kami.
"Mmm", gumamnya sambil menuju ke kamar anak-anak untuk melihat buah hati kami yang tertidur lelap. Yusuf puteraku yan kedua baru berumur 20 bulan, mirip sekali wajahnya dengan suamiku. Sedang Fathimah puteri pertamaku sudah berumur 4.5 tahun, hanya hidungnya saja yang mirip denganku, sama tidak mancungnya, dan selebihnya mirip suamiku semuanya. "Ngga salah dong ia selalu menanyakan prototipenya.. he.he..", tawaku didalam hati.

"Kemana saja tadi Mas?", pertanyaan yang tak pernah bosan dan sering kutanyakan kepada suamiku setiap hari. "Biasalah", begitu jawabannya yang tak kalah seringnya. Memang suamiku tergolong orang yang tertutup. Sebenarnya aku tahu jadwal kerja di universitasnya yang hanya sampai jam lima sore. Suamiku adalah dosen teknik kimia di universitas swasta dan sudah menginjak tiga tahun, semenjak berhasil memperoleh gelar masternya di negeri jepang. Tapi bisa dikatakan aku hanya sedikit mengetahui kegiatan lain mas Arman selain menjadi dosen di universitas swasta.

"Dik, ayo kita tidur", ajak mas Arman. "Ehh.. Iya mas, jawabku gelagapan. Segera kubereskan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam, padahal rasanya kami baru saja bersantap malam dan sedikit berbincang-bincang. Ternyata waktu tidak mau diajak kompromi untuk sedikit memperlambat lajunya. Memang mas Arman sudah telat pulangnya, oleh karena itu waktunya semakin terasa sempit untuk berduaan ngobrol bersama.

"Oh iya Dik, besok Insya Allah Mas akan keluar kota sampai hari Minggu", kata mas Arman sambil berusaha menarik selimutnya.
"Yaaa.... tapi besok Sabtu kan kita mau jalan-jalan....", ku berusaha mengingatkan mas Arman.
"Maaf Dik.. urusan ini lebih penting dan mendadak pemberitahuannya, Mas ngga bisa menolak". "Insya Allah diganti minggu depan yah", suamiku berusaha menghiburku. Tapi aku tahu, minggu depan waktu mas Arman belum tentu kosong .
"Urusan apa Mas?", tanyaku.
"Biasalah..", jawaban mas Arman seperti biasa.
Dan aku pun tak bisa menanyakan lebih jauh, bila sudah keluar kata "Biasa"nya mas Arman. Akhirnya pikiranku pun menerawang jauh dan bertanya-tanya. Kapan Mas Arman punya waktu luang untuk anak dan istrinya. Aku berusaha berkelit bahwa anak-anak membutuhkan waktu dari mas Arman. Tetapi sebenarnya diriku juga membutuhkan waktu darinya. Sudah lima tahun pernikahan kami. Tetapi rasanya aku tidak merasakan cukup banyak waktu bersamanya. "Ya Allah sabarkan lah hambaMu ini yang penuh dengan hawa nafsu ini, dan bersihkanlah hati ini dari kecintaan dunia... Waktu kebersamaan kami, ku ikhlaskan kepadaMu, dengan hanya mengharapkan RidhoMu... Amin Ya Rabbal Alamin", kututup mataku sambil berdoa.

*****

"Bu.., Ayah mana?..", tanya Fathimah putri sulungku sembari masuk ke kamar tidurku..
"Ooo.. Ayah ada urusan penting hari ini sehingga harus pergi sampai hari minggu. Tadi pagi sebelum Fathimah bangun, Ayah sudah harus pergi. Ini ada titipan kecupan dari Ayah!, cuuppp!!??"
"Yaaa.... kok Fathimah tidak dibangunkan Bu???, kan Fathimah pingin ketemu Ayah.. Hari ini berarti kita tidak jadi pergi dongg Bu?", Fathimah terus merengek.
"Iya.. maaf yah Fathimah... Anak sholeh harus sabar.. Insya Allah nanti akan diganti di lain waktu ya....", jawabku untuk menenangkannya.
"Ayo Fathimah mandi dulu yah..., biar badan Fathimah jadi bersih dan wangi. Kebersihan adalah sebagian dari apa Fathimah?", tanyaku untuk mengingatkannya.
"Iman.....", jawab Fathimah hampir berteriak.
"Alhamdulillah.. benar sekali jawabanmu..... Fathimah memang anak pintar!!!", ku puji jawabannya. Lalu ku siapkan keperluan mandinya dan mengantarnya ke kamar mandi. Dan dalam waktu singkat, anakku sudah keluar dari kamar mandi.
"Sudah selesai mandinya Fathimah?" Ayukkk sini pakai bajunya, malu kan terlihat auratnya", segera kuhantar ke kamar tidurnya dan membantu mengeringkan badannya.
"Alhamdulillah cantiknya anak Ayah dan Ibu... wangi lagi", kucium keningnya dan Fathimah pun tak sabar keluar main di halaman rumah.

Tuuut... Tuuut... Tuuut... terdengar bunyi telepon di ruang tengah.
"Assalamu alaikum, di sini rumah keluarga Arman Suhandi".
"Wa alaikum salam, apakah Bapak Arman berada dirumah?", terdengar suara wanita dari kejauhan.
"Bapak sedang tidak ada di rumah, ini dari siapa yah?", tanya ku.
"Ini dari anak didiknya di kampus, ini dengan Ibu Arman?", tanyanya.
"Iya benar, ada pesan ?"
"Oh tidak ada Bu, biar nanti saya hubungi kembali, terima kasih Bu, wa salamu alaikum", teleponnya pun di tutup tanpa sempat ku menjawab salamnya.
Apa keperluan siswinya mas Arman?.. Hari libur begini ada urusan apa?.. Mengapa tergesa-gesa pula?..Apakah ada hubungannya dengan urusan penting mas Arman hari ini?... Hhmm..... aku menarik nafas sambil berusaha mengusir pikiran ku yang tidak-tidak. Aku baru teringat bahwa aku lupa menanyakan namanya. Seandainya ku tahu namanya, mungkin nanti aku bisa tanyakan ke mas Arman untuk lebih jelasnya. Yah... nanti akan aku tanyakan kepada mas Arman, jarang-jarang ada wanita yang menelepon ke rumah menanyakan suamiku, kecuali Ibu mertua ku atau kakak ipar perempuanku. Ahh... Mirna kamu jangan pikir yang bukan-bukan., kuberusaha mengalihkan pikiranku dengan bersiap-siap untuk memasak.

*****

"Duhhh panasnya hari ini", gumamku sambil mengusap keringatku. Padahal kipas angin sudah kunyalakan sedari tadi. Ternyata kurang cukup mengurangi keterikan matahari siang hari ini. Kusiapkan mesin jahit yang tersimpan di lemari. Hari ini aku akan menjahit baju Yusuf, baru saja selesai kubuat pola bajunya. Menjahit sangat membantuku mengisi waktu luang bila semua pekerjaan telah beres dan anak-anak sudah tertidur. Biasanya sambil menjahit kusambi dengan merenungi harapan ku terhadap pernikahanku yang telah berjalan lima tahun. Bisa dikatakan sudah tidak seharum lima tahu yang lalu. Dan waktu-waktu mas Arman tidak selonggar seperti di tahun-tahun pertama pernikahan kami. Apa yang paling kutakutkan adalah bila pernikahanku menjadi hambar. Dalam menghadapi rutinitas yang hampir-hampir saja mematikan komunikasi diantara kami, tentu dapat menimbulkan kebosanan. Dan ini yang paling menakutkan ku. Aku terus berusaha memperbaiki pelayanan terhadap suamiku. Ku cari variasi-variasi yang menyegarkan. Entah itu menu masakan ku, tata letak rumahku, penampilanku, penampilan anak-anak. Tapi satu hal yang paling sulit kami lakukan adalah jalan bersama keluarga. Waktu luang mas Arman tidak mengijinkan. Kalaupun ada sedikit waktu luang, digunakan mas Arman untuk istirahat di rumah. Rutinitas yang terus monoton, suatu saat dapat menimbulkan kebosananku, rasanya ingin sekali kami dapat berkumpul bersama dalam suasana yang lain dan menyegarkan. Akibatnya terkadang terselip pikiran yang bukan-bukan. Telepon kemaren hari mengingatkan ku, ku berusaha menepis supaya jangan sampai meracuniku kembali. Mana mungkin mas Arman berbuat yang tidak-tidak di belakang ku. Tapi memang tidak dapat kupungkiri, ada sedikit keresahanku terhadap kejadian kemaren hari. Lumrah bila aku merasa gelisah. Fithrah ku sebagai wanita, tentu tidak begitu saja mudah melupakan suara wanita yang menanyakan keberadaan suamiku.Adzan di masjid berkumandang menyadarkan ku. Astaghfirullah... pikiran ku melantur kemana-mana, tidak terasa sudah masuk waktu sholat ashar dan sebentar lagi anak-anak segera bangun dari tidur siangnya, berarti aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku.

*****

"Dik, ayoo siapkan anak-anak, kita pergi ke puncak!", ucap suamiku setelah menyelesaikan bacaan Qur'annya
"Benar Mas?", tanyaku tidak percaya.
"Iya benar, Dik, mumpung masih jam enam, biar ngga kena macet, kita berangkat pagi-pagi!".
"Memang Mas tidak ada acara hari ini?", tanyaku heran.
"Ngga ada, Alhamdulillah.. agak longgar waktu Mas untuk pekan ini".
Rasanya aku bersyukur atas nikmat yang sudah kudambakan akhir-akhir ini. Kami dapat rihlah bersama keluarga untuk menyegarkan rutinitas yang mulai membosankan. Dan tanpa bertanya lagi, segera aku pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal untuk perjalanan nanti. Alhamdulillah..... terima kasih ya Allah....

*****

"Wahhh enak sekali nasi timbel ini ya Bu", ucap suamiku di sela-sela kesibukannya melahap hidangan di restoran sekitar daerah cipanas. Memang dingin-dingin begini menambah kenikmatan nasi timbel yang kami makan hangat-hangat dengan sambal terasi, lalapan, ikan gurame goreng, ikan asin, sayur asam dan empal daging. Alhamdulillah nikmat sekali rasanya. Fathimah pun tak kalah lahapnya dan Yusuf dengan sigapnya membuka mulut setiap suapan yang aku berikan. Mungkin mereka kelaparan setelah seharian berlari-lari di taman cibodas bermain bola bersama mas Arman. Kami pun larut dalam acara makan bersama dengan tawa dan canda. Alhamdulillah ya Allah....

"Mas.... kok belok ke sini?", tanyaku keheranan.
"Mas ada keperluan, sebentar aja kok", suamiku membelokkan mobil kami ke jalan sempit. Di kanan kiri masih ditumbuhi rerumputan dan pohon-pohon pisang liar. Sekitar lima belas menit kemudian, terlihat sebuah perumahan sederhana dengan penduduk yang sederhana pula. Dan mas Arman menurunkan kaca mobilnya.
"Assalamu alaikum", ucapnya terhadap sekumpulan anak muda yang sedang berkumpul di depan sebuah bangunan yang terlihat belum selesai pembangunannya.
"Wa alaikum salam Pak Arman", jawab mereka serempak.
"Wahhh ini keluarga Bapak?...", tanya salah seorang pemuda.
"Iya.. saya sengaja membawanya ke sini, ini istri saya dan dua anak saya".
"Assalamu alaikum", teriak Fathimah puteri kami.
"Wa alaikum salam, duhh pintar sekali puteri Bapak?, seperti ayahnya".
"Bagaimana dengan persiapan untuk acara syukuran dan peresmian besok?, sudah beres?.."
"Alhamdulillah.... sudah selesai Pak Arman".
"Semoga besok dapat segera diresmikan, supaya kalian dapat belajar dengan tenang".
"Iya Pak.... semoga acaranya berjalan dengan lancar..".
Aku menjadi bingung melihat hal ini. "Mas, tolong jelaskan, Ibu benar-benar bingung!??"
Mas Arman tersenyum, "Ini loh Bu, proyek Ayah selama tiga tahun ini".
"Pimpinan di universitas Ayah, mengamanahi untuk mendirikan sekolah di sekitar sini. Ayah yang bertanggung jawab atas pendirian sekolah untuk anak yang kurang mampu dan ternyata hampir semua anak yang putus sekolah tinggal di sekitar sini. Sayang jika mereka harus putus sekolah, karena dapat dikatakan pola pikir mereka masih bersih, maka alangkah baiknya jika ditambah dengan pola pikir yang islami. Nahhh, sekolah ini selain mengajarkan ilmu pengetahuan umum, juga menambahkan wawasan berpikir yang islami"
"Assalamu alaikum Pak dan Ibu Arman", tiba-tiba pembicaraan kami terputus oleh suara wanita yang rasanya kukenal.
"Wa alaikum salam", jawab kami berdua.
"Bu, ini Ummu Hafidz, dia mantan siswi di universitas Ayah dan sekarang bersama keluarganya pindah kesini untuk membantu operasional sekolah ini".
"Panggil saja Rima Bu, maaf karena saya pernah menelepon ke rumah Ibu dengan tergesa-gesa, kebetulan ada keperluan mendadak dengan Bapak, tapi Alhamdulillah ngga lama setelah saya telepon , Bapak telah sampai ke sini", ujarnya dengan rasa sungkan.
"OO itu dik Rima, ngga apa-apa kok dik, hanya saja saya sedikit khawatir, takut terjadi apa-apa", jawabku lega.
"Iya sudah, besok kita kemari lagi untuk menghadiri acara syukuran peresmian sekolah ini", suamiku mengajak ku pulang.
"Yukk dik Rima, kapan-kapan main ke rumah yah", ucapku mengundangnya.
"Insya Allah Bu, jika ada waktu, kami juga ingin silaturahmi sekeluarga ke rumah Ibu dan Bapak,"jawabnya.
"Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuuh....", kami pun berpamitan dan kembali ke mobil untuk segera pulang.
Tanpa terasa hari sudah kian sore, dan selama dalam perjalanan pulang, aku tak henti-hentinya bersyukur. Ternyata kesibukan mas Arman adalah untuk menolong sesamanya. Rasanya segala kejenuhanku sungguh tidak beralasan, waktu yang sempit sekali pun harus kusyukuri, karena Allah telah mengamanahi mas Arman untuk membantu sesamanya, walaupun akibatnya waktu untuk kami menjadi sedemikian sempit.
Alhamdulillah sungguh rihlah kali ini sangat menyejukkan hati, semua pertanyaan yang menjadi pikiran ku terjawab sudah.
Ya Allah, ampuni hambaMu ini..... Maafkan Mirna ya Mas... selama ini aku hanya mengeluh, tanpa mensyukuri apa yang ada, bahkan sempat berpikiran yang tidak-tidak.... Astaghfirullah....
Dan senja pun kian memerah ketika kami memasuki tol jakarta. Rasanya aku siap masuki babak kehidupan yang baru dengan suasana hati yang baru dan segar. Semoga Allah memudahkan perjalanan hidup kami di dunia sehingga kami tetap dapat di kumpulkan bersama di kehidupan akhirat nanti... Amin...
(UA)

Seindah Mentari Pagi

Pagi itu di dapur....
" Bu,.. awas itu ikannya hampir gosong loh... ", seru khadimatku, Asih, membuyarkan lamunanku.
" Masya Allah...", seruku seraya mematikan kompor.
" Nah loh ibu lagi ngelamun ya... ?", goda Asih lagi.
" Ah, kamu ini... ayo mana belanjaannya ? ", tanyaku.
" Asih, hari ini kita bikin bali ikan, sayurnya kita bikin lodeh saja terus goreng tahu, tempe dan kerupuk". Asih, khadimatku sudah lama ikut aku dan keluarga. Sejak dia baru lulus SD sampai sekarang dia sudah lulus SMEA. Kami sekeluarga sudah menganggap Asih sebagai anggota keluarga sendiri.

Selesai masak bareng Asih sambil menunggu adzan dzuhur aku berniat meneruskan tulisanku semalam, tapi aku hanya termenung di depan layar monitor tanpa dapat memusatkan pikiranku. Aku kembali meneruskan lamunanku yang tadi sempat terputus gara-gara Asih mengejutkanku. Semalam selepas kami sholat Isya' berjamaah, Sarah putri tunggalku menghampiriku di kamar.
" Ummi,... ummi lagi repot ? ", tanya Sarah.
" Nggak kog sayang, ada apa ? ".
" Malam ini ummi nggak nulis ?, biasanya ba'da isya ummi khan langsung asyik sama komputer ".
" He.. he.. Sarah,...Sarah....nggak kog, memang sih ummi mau nulis tapi nanti-nanti saja. Ada apa sholihah... ? ".
" Eng.. eng... ada yang mau Sarah diskusikan sama ummi ".
" Ya,... tentang apa nak ? ".
" Tapi ummi harus janji dulu sama Sarah loh.. ".
" Janji.. ? ada apa memangnya ? ".
" Ya ummi, janji dulu ya mi yah... ? ", Sarah mulai dengan rengekan manjanya
" Iya deh insya Allah.... ".
" Ummi musti janji pertama ummi jangan motong dulu sebelum Sarah selesai, terus yang kedua ummi jangan bicarakan ini dulu sama siapapun kecuali sama Abi. Sarah nggak mau kalau mas Fadhil, mas Yazid dan Zakly tahu sebelum waktunya ", kata Sarah seraya menatapku.
" Hhhmm.... iya insya Allah ".
" Nah,... sekarang ummi dengarkan baik-baik yah...? ", pinta Sarah dengan kerlingan manjanya.
" Iya.... ini dari tadi juga ummi sudah dengerin kog...", kataku mulai tak sabar.
" Mmhhhh... begini ummi,.... akhir-akhir ini Sarah mulai berpikir kalau... mmhhh...mmhhh.. kalau Sarah pingin menyempurnakan setengah dari dien Sarah ", kata Sarah perlahan lantas Sarah tertunduk dan diam.
Aku masih terdiam, rasanya otakku saat itu bekerja dengan sangat lambat untuk mencerna kata-kata Sarah. Sarah ingin menyempurnakan setengah dari diennya itu artinya Sarah hendak menikah....Subhanallah... Alhamdulillah... putri tunggalku sudah berpikir ke arah sana.

" Sarah,...subhanallah nak...", aku tak dapat meneruskan kata-kataku.
" Ummi kaget Sarah,... tapi sekaligus juga bangga ", kataku seraya memeluk Sarah yang masih tertunduk di hadapanku. " Alhamdulillah nak.... Insya Allah kalau nanti abi sudah pulang akan ummi diskusikan dengan abi. Nah,...mau ngomong begitu aja kog dari tadi pakai takut-takut segala sih sayang.. ? ", godaku.
Sarah masih menunduk sambil tersenyum.
" Sekarang masalahnya Sarah mau nikah sama siapa ?", tanyaku. "Atau Sarah pingin abi dan ummi yang carikan calonnya ? ".
" Mmhh... sebenarnya Sarah sudah punya calon ummi.... ", katanya perlahan.
" Heh... ?? Sarah sudah punya calon... kog abi dan ummi nggak tahu ? ".

Terus terang aku terkejut. Aku kenal betul siapa Sarah, ia sangat hati- hati dalam menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya. Tapi kog tahu-tahu sekarang sudah ada calon.
" Ummi masih janji kalau nggak memotong sebelum Sarah selesai khan,...sekarang Sarah mau cerita yang lengkap ". Sarah menarik nafas.
" Begini ummi,... ada temen pengajian Sarah di kampus, akhwat itu punya mas. Nah, masnya itu insyaAllah akhlaq dan diennya baik ".
" Hhmm.... lantas.. ", kataku tak sabar.
" Temen Sarah itu mengusulkan agar Sarah menikah dengan masnya. Nah,.. sekarang Sarah mau minta tolong ummi dan abi atau mas Fadhil atau mas Yazid untuk menyelidiki apa memang betul ikhwan itu diennya baik dan insya Allah bisa cocok sama Sarah ".
" Hhhmmm... begitu ? ".
" Sarah belum pernah ketemu sama ikhwan itu, Sarah baru lihat fotonya saja dan Yasmin, teman Sarah itu cerita kalau ikhwan itu insya Allah shalih. Sarah percaya sama Yasmin, ummi masih ingat Yasmin khan yang pernah kesini itu lho... ".
" Ummi lupa abis khan banyak akhwat temen Sarah yang main kesini ".
" Ummi,... abi dan ummi khan selalu bilang kalau apapun yang kita kerjakan harus lillaahita'ala khan ? ", tanya Sarah. Aku hanya mengangguk....
" Ummi,....insya Allah Sarah ingin pernikahan ini juga menjadi ibadah karena Sarah pingin mencari ridho Allah ummi. Sarah ingin nikah dengan ikhwan itu karena Sarah ingin menolong ia dan keluarganya mi... Ummi,.. sebenarnya ia sudah menikah, sudah punya isteri ".
" Heh....", seruku dengan terkejut.

Tanpa memperdulikan keterkejutanku Sarah kembali meneruskan kata-katanya.
" Ummi, ikhwan itu sudah nikah hampir 6 tahun, tapi sampai sekarang belum dikasih amanah oleh Allah, isterinya punya fisik yang lemah, sering sakit-sakitan. Sarah berpikir ummi,.... Sarah ingin bisa menolong keluarga itu untuk sama-sama berjihad di jalan Allah. Sarah bisa bantu-bantu pekerjaan rumah tangga dan insya Allah nanti Sarah bisa melahirkan jundi-jundi yang bisa dididik sama-sama. Ummi ingat ya ummi,... Sarah insyaAllah mau melakukan ini semua hanya karena Allah, Sarah cuma mau mencari ridho Allah saja ummi.... Sarah sudah istikharoh berkali-kali dan Sarah makin hari makin mantap aja ".

Aku hanya terdiam,... tak tahu harus berkata apa. Terus terang aku sangat ingin suamiku ada disampingku saat ini. Kenapa Sarah harus membicarakan hal itu di saat suamiku ke luar kota. Aku bingung tak tahu harus berkata apa....

" Ummi,.... ", panggil Sarah perlahan.
" Sarah,...sekarang ummi mau tanya ya nak... ".
" Bagaimana awal mulanya kog tiba-tiba Sarah ingin menikah dengan ikhwan itu ? ".
" Begini ummi,...Yasmin bilang kalau mbak Asma, nama isteri masnya itu, pernah bilang ke Yasmin bahwa mbak Asma ingin suaminya menikah lagi ".
" Hhmmm.... terus.... ".
" Soalnya mbak Asma tahu benar kalau suaminya sudah ingin punya jundi sementara mbak Asma sendiri sampai sekarang belum juga dikasih kesempatan oleh Allah untuk hamil. Kasihan mbak Asma ummi,...sudah fisiknya lemah, kesepian lagi. Sehabis Yasmin cerita begitu Sarah jadi kepikiran, Sarah ingin membantu keluarga itu ummi.... Sarah pingin bisa bantu-bantu mbak Asma, nemenin mbak Asma, insyaAllah nanti Sarah juga bisa melahirkan jundi yang bisa dididik sama-sama. Khan Ummi sendiri yang bilang kalau untuk menuju kebangkitan Islam memerlukan generasi yang berkualitas, insya Allah nanti akan lahir generasi-generasi robbani ."

Setelah sholat dzuhur berdua dengan Asih aku kemudian makan sendirian. Kalau siang seperti ini rumah selalu sepi, hanya aku berdua dengan Asih saja. Mereka biasanya makan di kampus masing-masing dan Yazid makan di cafetaria kantornya. Terus terang aku kesepian, ingin rasanya aku segera mendapatkan cucu-cucu dari mereka. Dan kini salah seorang dari mereka mengajukan keinginannya untuk menikah, tapi...kenapa Sarah hendak nikah dengan seseorang yang telah beristri?.... Rasanya sejak semalam aku sulit berpikir secara jernih, aku terlalu terbawa alam perasaanku. Diantara mereka berempat aku tidak membeda-bedakan kasih sayangku. Aku selalu berusaha adil terhadap mereka. Tapi tak dapat kupungkiri kalau Sarah menempati posisi yang lebih istimewa. Perhatianku lebih tercurah ekstra pada Sarah. Karena Sarah hanya satu-satunya putri tunggalku. Aku lebih melindungi Sarah dibandingkan dengan putra-putraku yang lain. Timbul rasa was-was dalam hatiku, bagaimana kalau seandainya suaminya nanti tak dapat berlaku adil, bagaimana kalau seandainya madu Sarah tidak memperlakukannya dengan baik karena merasa mendapat saingan dan bagaimana kalau nanti Sarah tidak bahagia. Semua itu menjadi beban pikiranku. Aku menyayangi Sarah, dan wajar bila sebagai seorang ibu aku ingin melihat anak-anakku bahagia. Aku menjadi tidak berselera makan. Tiba-tiba...

" Assalamu'alaikum,...", suara Zakly kudengar dari teras depan.
" Wa'alaikumussalam,... loh kog sudah pulang ? ", tanyaku.
" Iya mi, dosennya nggak ada... lagi pula siang ini sudah nggak ada kuliah lagi kog ", jawab Zakly seraya mencium tanganku.
" Ayo makan sekalian,...ummi baru saja mulai ".
" Sebentar mi, cuci tangan dulu... ".

Seperti kebiasaan mereka sejak kecil, setiap pulang sekolah waktu makan siang mereka akan bercerita tentang kejadian mereka di sekolah hari itu. Dan hingga kini meskipun mereka telah beranjak dewasa kebiasaan itu tetap terbawa. Zakly sedang bercerita tentang susahnya mencari dosen pembimbingnya untuk skripsi. Tapi aku hanya menanggapi setengah hati, konsentrasiku tidak terpusat seutuhnya pada apa yang dibicarakannya.

" Ummi,.... ummi kenapa sih...? ", tanya Zakly.
" Oohh...nggak,... Zakly bilang apa tadi temen Zakly kenapa ? ".
" Nah khan... ketahuan deh kalo ummi nggak dengerin Zakly ngomong ".
" Nggak,.. kenapa tadi.... ? ".
" Sejak tadi pagi Zakly perhatikan ummi hari ini agak lain deh... ".
" Ah masa sih,... itu khan perasaan Zakly saja.. ".
" Bener kog... tadi pagi di garasi mas Yazid saja tanya sama Zakly, kog ummi pagi ini agak diam ya... nggak secerewet biasanya ".
" Eh,...ghibah ih,...ngomongin umminya ", sahutku sambil tersenyum.
" Bener kog... ummi nggak sakit khan ?? ".
" Nggak ummi nggak apa-apa kog... ".
" Kalo nggak apa-apa kog ummi jadi agak lain ayo !", desak Zakly masih dengan ngototnya.
Sifat Zakly ini menurun dari abinya, yang nggak akan berhenti bertanya kalo belum mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan hatinya.
" Ummi...ummi cuma pingin abi cepet pulang, gitu aja.." sahutku perlahan.
" Ha.... ha.... ", meledak tawa Zakly.
" Lho kog ketawa sih ? ",tanyaku.
" Abis ummi lucu, kaya pengantin baru aja deh.... dikit-dikit kangen pingin ketemu abi ".
" Yah wajar dong.... namanya juga suami isteri ".
" Tapi ummi lucu deh... kita khan pura-pura nggak tahu aja, kalau sebenarnya di belakang kita ummi tuh kolokan banget sama abi... ", goda Zakly lagi.
" Hhhmmm.... kata siapa ? ", tanyaku tak mau kalah.
" Yah ummi...ngaku aja deh,...kalau ummi khan masih manja banget sama abi, ummi kita khan udah pada gede-gede, sudah ngerti ", kata Zakly masih sambil ketawa.
" Udah ah,... ketawa aja tersedak lho nanti maemnya.. ",sahutku.
" Mmmhh...ummi nggak mau ngakuin tuh..., sabar dong ummi insya Allah besok abi khan sudah pulang ", goda Zakly lagi.
" Udah,... cepat dihabisin maemnya Zakly... ".
" Iya nyonya besar.... ", kata Zakly sambil tersenyum-senyum menggoda.
" Ummi,...", panggil Zakly lagi.
" Apa lagi sholeh ?? ".
" Mmhh... Zakly nanti ingin kalau punya rumah tangga seperti rumah tangga abi dan ummi.... ".
" Kenapa memangnya... ? ".
" Sepertinya abi sama ummi tuh seneenng terus, nggak pernah Zakly lihat abi sama ummi ribut, meskipun sudah tua-tua tapi masih seperti pengantin baru saja ".
" Hhmmm... kalian khan nggak tau saja, pernah juga abi dan ummi berselisih, karena beda pendapat, itu wajar dalam rumah tangga ".
" Oya... kog Zakly nggak tahu.. ".
" Aduh anakku sholeh.... masa sih kalau abi sama ummi lagi nggak enakan harus lapor sama kalian, nggak khan ?".
" Iya.. ya.... ".
" Itu rahasia abi dan ummi, kita selesaikan berdua, diskusi, dibahas, saling menghargai pendapat lawan, cari jalan tengahnya ".
" Terus mi.... ".
" Ya sudah,...berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, dan saling mengalah. InsyaAllah keadaan cepat normal lagi, baikan lagi. Kunci yang penting Zakly,... kalau nanti Zakly sudah berkeluarga, jangan pernah kalian ribut di depan anak-anak, karena nggak baik buat perkembangan jiwa mereka. Selesaikan berdua ketika sudah sama-sama tenang sehabis sholat misalnya ".
" Hhmmm... itu makanya abi sama ummi tetap awet sampai sekarang yah ? ".
" Yah... alhamdulillah nak, abi dan ummi saling cinta meskipun dulu kita nggak pakai istilah pacaran ".
" Iya mi,... Zakly tahu itu....subhanallah....
"Iya,... Islam sudah bikin aturan yang benar dan baik tinggal tergantung kita mau ikut atau nggak ", kataku lebih lanjut. Sudah sekarang cepat habisin maemnya... ".
" Jazakillah ya ummi buat materinya siang ini.... ".
" Hhmm... waiyakallahu.. ".

Dan tiba-tiba.... kring... dering suara telfon.
" Hallo,... ", angkat Yazid.
" 'Alaikumussalam,... oh abi nih... Iya bi,... bener nih nggak usah dijemput ?. Iya-iya....insya Allah.... 'alaikumussalam... ".
" Dari abi, Yazid ?? ", tanyaku.
" Iya,... seminar abi ternyata selesai hari ini, abi sekarang ada di airport sebentar lagi pulang ".
" Lho,... abi nggak minta dijemput ? ", tanyaku.
" Kata abi, abi mau naik taksi saja biar cepat, kalau nunggu dijemput kelamaan ".
" Insya Allah sebentar lagi abi pulang ". harapku.

Selesai sholat isya'....

" Kalian sudah pada lapar ya ?, mau makan sekarang atau nunggu abi saja sekalian ? ", tanyaku.
" Nanti aja mi,... enakan bareng-bareng abi aja.. ".
" Kalau kalian mau maem dulu nggak apa-apa, biar nanti ummi saja yang nemenin abi ".
" Nggak usah mi,... khan sebentar lagi insya Allah abi juga datang ", jawab Fadhil lagi.
Dan benar, tak berapa lama kemudian....
" Assalamu'alaikum,...", suara suamiku dari teras depan.
" Wa'alaikumussalam... ", jawab kami berbarengan.
Kelakuan mereka masih persis anak-anak langsung berebut membuka pintu buat abinya dan mencium tangan abinya. Kalau melihat mereka seperti itu tak percaya rasanya kalau mereka sudah pada besar-besar dan sudah waktunya untuk nikah. Ah,...nikah lagi... kenapa itu yang ada dipikiranku selalu.

" Ummi,..ini nih pacar ummi udah datang...", seru Zakly.
" Zakly,...apa-apa an sih ya...", kataku sambil melotot.
" Alah.. ummi, tadi siang bilang kangen, pingin abi cepet pulang, sekarang malah berdiri disitu aja... ", goda Zakly lagi.
" He.. he.... memang tadi siang ummi kenapa Zakly ", tanya suamiku.
" Tadi siang nih bi.... ".
" Udah Zakly,... abi baru aja dateng,... cuci tangan dulu deh bi,.. terus kita maem ", potongku langsung.
" Iya bi,.. kita tadi udah laper nungguin ", kata Sarah.

Seperti biasa waktu makan malam adalah saat dimana kami dapat makan bersama. Kalau pagi, anak-anak biasa sarapan lebih dulu sedangkan aku dan suamiku hanya sarapan berdua, karena suami ke kantor agak siang dibanding mereka pergi. Kalau siang mereka tak pernah makan di rumah, biasanya aku makan sendiri. Jadi baru makan malamlah kami dapat berkumpul bersama. Dan seperti biasa mereka saling tak mau kalah kalau sudah cerita, jadi bisa dibayangkan bagaimana semaraknya suasana.

" Oya,...tadi Zakly bilang apa tentang ummi ", tanya sumiku mendadak.
" Oh,... he.. he.. ini ummi,... ".
" Kenapa Zakly ? ", tanya Yazid.
" Tadi siang khan Zakly makan di rumah , terus pas Zakly ajak ngobrol ummi tuh kayanya nggak bener-bener ngedengerin deh,... Zakly pikir kenapa gitu.... ".
" Trus.... ", potong Fadhil.
" Waktu Zakly desak-desak ummi bilang nggak apa-apa,.. tapi akhirnya ngaku juga... ".
" Ummi bilang apa... ? ", tanya suamiku.
" Ummi bilang kangen sama abi, pingin abi cepat-cepat pulang, waktu ngomongnya kaya anak remaja yang umur 17 tahun, sambil malu-malu gimanaaa.. gitu ".
Langsung, tawa mereka memecah...
" Ih,... ummi perasaan biasa aja bilangnya, ngapain juga pakai malu-malu segala, orang abi sama ummi udah 28 tahun nikah ", sahutku.
" Alah ummi,..Zakly tadi khan liat muka ummi merah-merah gimana gitu ".
" Oooohh.... pantesan tadi pagi Yazid juga perhatikan ummi agak aneh, nggak seperti biasanya ", sambung Yazid.
" Iya,..ummi tadi pagi agak diam, hhmm baru ketauan ternyata sebabnya kenapa ", kata Fadhil

Mereka masih tertawa-tawa, kulirik Sarah hanya tersenyum tak ikut menggodaku seperti yang lain. Tentu Sarah tahu dialah yang menjadi penyebab kenapa seharian ini aku agak aneh.
" Iya mi,...bener ya apa yang Zakly bilang ", tanya suamiku sambil menatapku dalam-dalam.
" Hhmm.... ", aku hanya tersenyum, jengah juga rasanya ditatap seperti itu di depan anak-anak meskipun mereka udah dewasa.
Mendadak tawa mereka memecah lagi....
" Lho,... kenapa sih... ?? ".
" Coba deh ummi ngaca, muka ummi tuh lucu banget tersipu-sipu gimana gitu, kaya remaja 17 tahunan ", kata Zakly.
" Ummi... ummi...,mau bilang iya aja kog pake malu-malu segala sih... ", kata suamiku.
" Padahal abi khan baru pergi 3 hari yang lalu, ya khan ? ", tanya suamiku ke mereka.
" Tunggu aja bi,.. nanti kalau kita sudah nggak ada, ummi bakal ngaku juga sama abi,... ", kata Zakly.
" Udah ah,... nggak selesai-selesai maemnya nanti, ingat abi belum sholat lho..", kataku mengalihkan pembicaraan.

Setelah suamiku sholat, seperti biasa kami berkumpul di ruang tengah. Dan juga seperti biasa mereka tak pernah habis-habis akan topik bahasan. Mulai dari kerusuhan tentang adanya isyu pembunuhan dukun santet yang menyebabkan sebagian ulama juga ikut terbunuh, tentang harga sembako yang masih saja sulit dijangkau, dan juga tentang keanekaragaman visi dari bermacam-macam partai Islam yang ada. Sampai pada masalah banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena tak ada biaya serta kondisi gizi anak-anak balita yang memprihatinkan. Dan seperti biasa, mereka ingin agar segera terbentuk khalifah Islam dimana segala macam bentuk perundang-undangan bersumber pada Al Qur'an dan sunnah Rasul yang insya Allah apabila semuanya itu dilakukan dapat menjamin pola kehidupan masyarakat akan menjadi baik.

Dari balik layar monitor kuperhatikan Sarah tidak selincah biasanya dalam berdiskusi dengan mas-masnya, Sarah hanya sesekali menimpali itu pun dengan nada bicara yang tanpa semangat, sedangkan aku dari tadi duduk di depan komputer, tapi hanya satu paragraf yang berhasil kutulis. Karena perhatianku lebih tercurah pada apa yang mereka bahas dibanding dengan susunan cerita yang sedang kukerjakan. Ingin rasanya aku cepat-cepat menarik suamiku ke kamar untuk membahas keinginan Sarah. Tapi kulihat mereka masih asyik, dan sekarang`mereka sedang nonton Dunia Dalam Berita. Biasanya sehabis acara itu mereka masih duduk di situ untuk membahas berita yang baru saja mereka lihat, sebelum akhirnya masuk ke kamar masing-masing. Setelah dunia dalam berita....
" Abi nggak capek,... khan tadi baru pulang, besok harus ke kantor khan ? ", kataku.
" Besok saja diterusin obrolannya,... atau kalian ngobrol berempat saja... ", sambil kutatap mereka.
" Kasian abi dong.... ", sambungku lagi.
" Hhhmm.... hhmm.... ", Zakly pura-pura batuk, yang aku tahu itu hanya untuk menggodaku saja.
" Iya deh,...lagian masa abi ngobrol sama kalian aja, abi khan juga pingin ngobrol sama ummi ", kata suamiku.
Tawa mereka memecah lagi...
" Bukan,... bukan gitu, abi khan baru pulang, dan besok harus kerja ", bantahku.
" Iya..iya...udah yok mi,.. kita bobo...", ajak suamiku.
" Jangan lupa lho, periksa lagi pintu jendela sebelum kalian masuk kamar ", perintahku pada mereka.

Kulirik jam, sudah pukul 10 kurang seperempat. Tak mungkin rasanya aku bercerita malam ini. Suamiku tentu lelah, biar besok saja setelah sholat shubuh pikirku. Dan kulihat suamiku sudah merebah di tempat tidur dan bersiap-siap untuk tidur. Iya,... nggak mungkin malam ini, besok saja putusku. Tapi aku masih belum dapat memejamkan mata, ingin rasanya hari segera berganti. Aku tidak biasa memendam sesuatu terhadap suamiku. Aku ingin segera menumpahkan apa yang menjadi beban pikiranku. Yah,... insya Allah nanti selepas shubuh...

Setelah qiyamul lail, sambil menunggu shubuh aku bergantian membaca qur'an dengan suamiku. Seperti biasa suamiku dan anak-anak sholat shubuh di mesjid. Tinggal aku, Sarah dan Asih sholat berjama'ah di rumah. Pada halaman terakhir aku membaca Al Matsurat, suamiku pun tiba. Akhirnya setelah kulipat mukena dan kurapikan sajadah aku berdiri di hadapan suamiku yang sedang duduk di tepi tempat tidur....

" Mas,... mas masih ngantuk ? mau tidur lagi ? ".
" Nggak kog,... mas nggak ngantuk, kenapa de' ? ".
" Mmhhh... ada yang mau ade' omongin sama mas... ".
" Iya,.. tentang apa de' ? ", tanya suamiku seraya menarikku untuk duduk di hadapannya.
" Mmhh.. ini tentang Sarah mas,... ".
" Iya,.. ada apa memangnya sama Sarah ? ".

Akhirnya kuceritakan semua apa yang menjadi keinginan Sarah. Rasa banggaku terhadap Sarah yang memiliki niat seperti itu. Persetujuanku terhadap keinginannya, tapi juga sekaligus rasa khawatirku, rasa cemasku akan putri tunggalku. Betapa aku amat mengasihinya dan aku tidak ingin ada sesuatu hal buruk yang akan dialaminya kelak. Di satu pihak apa yang menjadi keinginan Sarah patut untuk aku dukung, karena yang dilakukan Sarah hanyalah untuk mencari ridhoNya semata, tak boleh aku menghalanginya dari jalan Allah. Tapi di pihak yang lain aku khawatir bila nanti suaminya tidak bisa berlaku adil atau rasa cemburu dari madunya akan menyakiti hatinya. Aku rasa kekhawatiranku adalah hal yang wajar, karena waktu Fatimah mengadu kepada Rasulullah SAW akan niat Ali ra yang hendak nikah lagi, Rasulullah pun berkata bahwa apabila menyakiti hati Fatimah, itu sama halnya dengan menyakiti hati beliau, karena rasa kasih sayang Rasulullah sangat besar terhadap Fatimah. Tapi aku sungguh tersentuh dengan niat Sarah yang subhanallah sangat mulia. Kutumpahkan semua uneg-uneg di hatiku pada suamiku.

" De',... mas tahu,...ade' sayang sekali pada Sarah, begitu juga mas ", kata suamiku perlahan.
" Tapi de',... ade' tahu khan kalau Sarah itu bukan milik kita, Allah cuma menitipkan Sarah ke kita. Alhamdulillah Allah mau memberikan amanahNya pada kita, bukan cuma Sarah, tapi juga Fadhil, Yazid dan Zakly ".
" Mas bangga pada anak-anak, begitu juga mas bangga pada ade' yang sudah berperan buat mentarbiyah mereka. Karena mereka semua nantinya harus kita pertanggung-jawabkan kepada Allah. Nah,...sekarang misalnya ade' ada di posisi Asma, sudah fisiknya lemah, sakit-sakitan, kesepian..., padahal dia menginginkan untuk dapat berperan menjadi pendidik generasi yang dapat menggantikan perjuangan generasi sebelumnya, dia juga menginginkan akan adanya panggilan 'ummi' dari seorang anak yang lucu. Gimana coba ? ", tanya suamiku dengan lembut.
" Dari cerita ade' tadi,...Asma sendiri yang usul supaya suaminya nikah lagi, rasanya apa yang ade' khawatirkan insya Allah nggak akan terjadi deh...Dia sudah rela suaminya menikah lagi, dia sudah ridho dan insya Allah diapun akan memperlakukan Sarah dengan baik.. . Ade' juga tau khan kalau Allah pasti memberikan yang terbaik, belum tentu apa yang menurut kita nggak baik tapi sebenarnya itu justru baik menurut Allah, cuma Allah yang tahu ade '...., kita tidak tahu apa-apa... ".

Sampai sini air mataku mulai menetes...Astaghfirullah...Ampuni aku ya Allah,... aku terlalu melibatkan perasaan dan emosiku. Sarah hanyalah milik-Mu, dan Engkau yang akan menjaganya... " Ade',..ade' inget khan kalau rasa cinta kita terhadap keluarga, harta dan sebagainya tidak boleh melebihi rasa cinta kita terhadap Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya ? ",tanya suamiku.
Aku hanya mengangguk....
" Jadi insyaAllah kitapun akan mendapat ridho Allah, dari apa yang dilakukan Sarah nanti...., karena kita dengan ikhlas menyetujui Sarah menikah hanya karena kita juga sama-sama mencintai-Nya ".

Kami sama-sama terdiam sesaat. Kutarik nafas panjang...
" Mas,...", panggilku lirih.
" Ya sayang... gimana ? ", tanya suamiku,
" Iya mas...ade' sudah tenang sekarang,...kalau tadi meskipun ade' setuju tapi tetap ada yang ganjal rasanya ".
" Kalau sekarang.. ? ", tanya suamiku.
" Ade' sekarang sudah ikhlas mas,... hati ade' sudah plong rasanya, ade' sadar ada Allah yang akan menjaga Sarah, Sarah kan cuma milik Allah ya mas ?? ".
" Nah,... gitu dong... insya Allah Sarah, Asma dan Farid bisa membentuk keluarga sakinah, yang bisa mencetak generasi rabbani, kita tinggal mendo'akan mereka saja de'...".
" Tapi mas,... ", kataku tertahan.
" Tapi kenapa lagi ? masih belum sreg juga ?
" Bukan begitu,... cuma mas kog kayanya begitu gampang memutuskan masalah ini, kayanya mas sudah tau tentang ini sebelumnya ", kataku penuh curiga.
" Mmmhhh... sebenernya sebelum ade' cerita tadi mas udah tau kog de'... ", kata suamiku.
" Hah.... ?? ", tanyaku heran.
" Mmmhh.. sebelum mas ke Jakarta Farid dateng ke kantor mas, sudah diskusi dengan mas... ".
" Lho.. ??? ".
" Iya,... Mas juga tahu siapa Farid itu, juga isterinya, tapi waktu itu mas sorenya udah buru-buru mau berangkat mas pikir nanti saja pulang dari Jakarta cerita ama ade', terus pas ade' lagi belanja sama Asih mas interlokal dari Jakarta, yang ada di rumah Sarah, mas tanya sama Sarah. Ternyata Sarah juga sudah tahu dari Yasmin, mungkin Asma sudah minta Yasmin bilang ke Sarah, begitu de' ", penjelasan suamiku.
" Lho,.. Sarah kog nggak bilang kemaren sama ade' kalo mas sebenarnya sudah ngomong sama Sarah duluan ?", tanyaku masih kebingungan.
" Iya,... mas bilang sama Sarah, supaya Sarah bilang sama ade' saja, tanya pendapat ade' gimana gitu... . Khan nggak enak kalau tahu-tahu mas udah langsung ngasih persetujuan duluan padahal ade' masih belum tahu apa-apa", kata suamiku lagi.

Subhanallah....betapa suamiku sangat menghargai aku, dari dulu suamiku tidak pernah mengambil keputusan sendiri dalam masalah rumah tangga, selalu mengajakku untuk berunding terlebih dahulu.
" Tapi mas,...ade' masih mau tanya lagi nih.. ", kataku.
" Iya sayang,... kenapa lagi ? ".
" Tadi mas bilang kalau mas tahu bener siapa Farid itu, memang mas sudah kenal sebelumnya sama Farid ? ".
" Mmmhh....mmmhh....", suamiku tidak menjawab hanya tersenyum saja.
Dan aku tahu apa itu artinya...suamiku tidak akan menjawab pertanyaan semacam itu. Tapi akupun tahu sebesar apa kasih sayang suamiku terhadap Sarah. Tidak mungkin rasanya suamiku membuat keputusan besar seperti ini tanpa lebih dahulu menyelidiki bagaimana keluarga Farid dan Asma.
" Yang penting de',... kita berdo'a aja untuk kebahagiaan mereka ", ujar suamiku.
" Hhhmm... iya deh,... yang penting kita tinggal berdoa saja buat mereka ", kataku.
" Terus mas ada lagi,.. berarti mas tahu dong kemarin pas ade' gelisah soalnya ada yang mau ade' omongin sama mas, ya khan ?", tanyaku.
" Iya doonngg...., masa mas nggak tahu, khan ade paling nggak bisa menyembunyikan sesuatu dari mas, meskipun sebenarnya ade' berusaha nutup-nutupin juga... ".
" Berarti mas tau dong sebenarnya ade' pingin ngomong kemaren ? ", tanyaku lebih gencar.
" Iya dong...tau dong....", kata suamiku sambil tertawa.
" Ih,... mas jahat,... nggak mau dibahas dari kemarin saja... mas tau nggak, ade' tuh semalam nggak nyenyak bobonya,... pingin cepat-cepat pagi biar cepat cerita sama mas... ", jelasku.
" Iya.... mas juga tahu, mas iseng saja... sekalian melatih kesabaran ade'...", sambung suamiku masih tertawa.
" Mas jahat ih.... sudah tua masih suka iseng ngerjain isterinya... ", kataku berusaha untuk tidak ikut tersenyum.
" He.. he.... alaah de'.... mau ketawa aja pakai gengsi segala sih.... ", kata suamiku sambil mengacak-ngacak rambutku. " Hhmmmm.... si mas....", aku sudah kehabisan kata-kata.

Tiba-tiba suara pintu kamar diketuk dengan agak keras, aku sudah hafal siapa lagi kalau bukan Zakly yang berani mengetuk seperti itu...
" Abi,... Ummi,.... pada mau pamitan nih.... ", teriak Zakly dari luar.
" Hhmm....Zakly ya, ngomong agak pelanan khan bisa ", kataku sambil membuka pintu kamar.
" He.. he.... abis tadi Sarah udah ngetuk tapi nggak dibukain sih,..ya udah Zakly aja yang ngetuk lagi, katanya membela diri.
" Lho bi,... kog belum siap ?? nggak ke kantor hari ini ya.. ? ", tanya Fadhil.
" Iya,... nanti agak siangan... ", jawab suamiku.
" Udah pada sarapan ? ", tanyaku.
" Udah dong.... khan kita sarapan sendirian.... ummi sama abi khan masih di dalam kamar ", kata Zakly sambil sedikit memonyongkan bibirnya.
" Khan udah pada gede juga.... ", kataku sambil tertawa.
" Ya udah mi,... berangkat dulu nih.... ", kata Yazid sambil mereka bergantian mencium tangan kami satu-persatu.
" Sarah,...berangkat ya mi... ", katanya sambil berbisik di telingaku sambil mencium pipiku.
" Iya nak,... hati-hati ", lantas kupeluk Sarah agak erat. Sarah pun membalas pelukanku dan sambil mengusap kerudungnya aku seraya berbisik bahwa aku ikhlas menyetujuinya. Kulihat mata Sarah berkaca-kaca....
" Woow... Sarah pamit ke ummi aja sampai kaya gitu, kaya di film-film telenovela aja ", goda Zakly.
" Udah ah,... kamu khan nggak tahu ", balas Sarah.
" Lho memangnya ada apa sih mi... ? ", tanya Fadhil.
" Udah,... sekarang berangkat saja kalian, udah siang lho nanti malam saja kita bahas... ", kata suamiku.
" Lho... emang ada apa... ?? ", tanya Zakly lagi.
" Udah.... berangkat sana.... ingat Zakly kalau naik motor jangan ngebut....terus kalian kalau jajan jangan sembarangan, sekarang lagi musim macam-macam penyakit ", kataku mulai lagi dengan segala pesan-pesan.
" Yah,.... ummi balik lagi dah... padahal kemarin udah anteng, udah diem ya mas Yazid ? ", kata Zakly.
" Iya nih ummi... habis abi sudah pulang sih...", timpal Yazid.
" Iya,... balik lagi deh berisiknya ", tambah Zakly.
" Zakly,... kog ngomong gitu sama umminya.. ", kataku.
" Afwan mi,.. becanda mi.... ", kata Zakly sambil memeluk bahuku.
" Hhmmm... udah ah,..pada terlambat lho nanti... ".
" Assalamu'alaikum....", kata mereka berbarengan.
" Wa'alaikumussalam...".

Aku antar mereka sampai depan rumah. Sambil menikmati hangatnya sinar mentari pagi di teras depan, aku termenung,....alhamdulillah aku bahagia ya Allah atas segala nikmat-Mu. Lindungilah mereka Ya Allah, tuntunlah selalu langkah-langkah mereka, penuhilah hati dan cinta mereka hanya dengan iman dan takwa kepada-Mu semata....

Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wadzurriyaatinaa qurrota
'ayun waj'alnaa lil muttaqiina imaama...
Amiin Ya Rabbal 'aalamiin....

Sebuah Kisah,……

Assalamu'alaikum...

Ini ceritaku tentang adikku Nur Annisa, gadis yang
baru beranjak dewasa namun rada bengal dan tomboy.
Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun ,
perkembangan dari tingkah lakunya rada mengkhawatirkan ibuku , banyak teman
cowoknya yang datang kerumah dan itu tidak mengenakkan ibuku sebagai
seorang guru ngaji.

Untuk mengantisipasi hal itu ibuku menyuruh adikku
memakai jilbab, namun selalu ditolaknya hingga timbul
pertengkaran-pertengkaran kecil diantara mereka.

Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang
rada keras "mama coba lihat deh, tetangga sebelah anaknya pakai
jilbab namun kelakuannya ngga beda beda ama kita-kita, malah
teman teman ani yang disekolah pake jilbab dibawa om om, sering
jalan-jalan, masih mending ani, walaupun begini gini ani ngga pernah mo
kaya' gituan ", bila sudah seperti itu ibuku hanya mengelus dada,
kadangkala di akhir malam kulihat ibuku menangis, lirih terdengar doanya "
Ya Allah , kenalkan Hani dengan hukum Engkau ".

Pada satu hari di dekat rumahku, ada tetangga baru
yang baru pindah. Satu keluarga dimana mempunyai enam anak yang
masih kecil-kecil. Suaminya bernama Abu khoiri, (entah nama aslinya
siapa) aku kenal dengannya waktu di masjid.

Setelah beberapa lama mereka pindah timbul desas
desus mengenai istri dari Abu khoiri yang tidak pernah keluar rumah,
hingga dijuluki si buta, bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh
Adikku, dan dia bertanya sama aku "kak, memang yang baru pindah
itu istrinya buta, bisu dan tuli ?"

..trus aku jawab sambil lalu "kalau kamu mau
datangin aja langsung rumahnya".

Eehhh, tuh anak benar-benar datang ke rumah….
Sekembalinya dari rumah tetanggaku, kulihat perubahan yang drastic pada
wajahnya, wajahnya yang biasa cerah ngga' pernah muram atau lesu
mejadi pucat pasi..entah apa yang terjadi.?

Namun tidak kusangka selang dua hari kemudian dia
meminta pada ibuku untuk dibuatkan Jilbab ..yang panjang lagi..rok
panjang, lengan panjang..aku sendiri jadi bingung..aku
tambah bingung campur syukur kepada Allah SWT karena kulihat perubahan
yang ajaib..yah kubilang ajaib karena dia berubah total..tidak
banyak lagi anak cowok yang datang ke rumah atau teman teman wanitanya
untuk sekedar bicara yang ngga' karuan..kulihat dia banyak merenung,
banyak baca-baca majalah islam yang biasanya dia suka beli majalah
anak muda kaya' gadis atau femina, ganti jadi majalah-majalah
islam, dan kulihat ibadahnya pun melebihi aku, tak ketinggalan
tahajudnya, baca Qur'annya, sholat sunat nya..dan yang lebih
menakjubkan lagi ..bila teman ku datang dia menundukkan pandangan..Segala
puji bagi Engkau ya Allah SWT jerit hatiku..

Tidak berapa lama aku dapat panggilan kerja di
kalimantan, kerja di satu perusahaan minyak KALTEX. Dua bulan aku
bekerja disana aku dapat kabar bahwa adikku sakit keras hingga
ibuku memanggilku untuk pulang ke rumah (rumahku di madiun). Di
pesawat tak henti hentinya aku berdoa kepada Allah SWT agar Adikku
di beri kesembuhan, namun aku hanya berusaha. ketika aku tiba di
rumah..didepan pintu sudah banyak orang..tak dapat kutahan aku lari
masuk kedalam rumah..kulihat ibuku menangis ..aku langsung
menghampiri dan memeluk ibuku..sambil tersendat
sendat ibuku bilang sama aku
"dhi , adikkmu bisa ucapkan kalimat Syahadah di
akhir hidupnya "..tak dapat kutahan air mata ini...

Setelah selesai acara penguburan dan lainnya ,
iseng aku masuk kamar adikku dan kulihat Diary diatas mejanya..diary
yang slalu dia tulis, Diary tempat dia menghabiskan waktunya
sebelum tidur kala kulihat sewaktu almarhumah adikku masih hidup,
kemudian kubuka selembar demi selembar..hingga tertuju pada satu
halaman yang menguak misteri dan pertanyaan yang slalu timbul di
hatiku..perubahan yang terjadi ketika adikku baru pulang dari rumah Abu
khoiri..disitu kulihat Tanya jawab antara adikku dan istri dari
tetanggaku ..isinya seperti ini :

Tanya jawab ( kulihat dilembaran itu banyak bekas
airmata )

Annisa :
aku berguman (wajah wanita ini cerah dan bersinar layaknya bidadari)

.....ibu.. wajah ibu sangat muda dan cantik

Istri tetanggaku :
Alhamdulillah ..sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati

Annisa :
tapi ibu kan udah punya anak enam ..tapi
masih kelihatan cantik

Istri tetanggaku :
Subhanallah ..sesungguhnya keindahan itu milik Allah SWT
dan bila Allah SWT berkehendak.. siapakah yang bisa menolaknya

Annisa :
Ibu..selama ini aku slalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku ….
namun aku selalu menolak karena aku pikir ngga
masalah aku ngga pakai jilbab asal aku tidak macam macam dan
kulihat banyak wanita memakai jilbab namun kelakuannya melebihi kami
yang tidak memakai jilbab..hingga aku ngga pernah mau untuk pakai
jilbab..menurut ibu bagaimana

Istri tetanggaku :
duhai Annisa, sesungguhnya Allah SWT menjadikan seluruh tubuh
wanita ini perhiasan dari ujung rambut hingga ujung kaki,
segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan muhrim kita
semuanya akan dipertanggung jawabkan
di hadapan Allah SWT nanti, jilbab adalah hijab untuk wanita ..

Annisa :
tapi yang kulihat banyak wanita jilbab
yang kelakuannya ngga enak..

Istri Tetanggaku :
Jilbab hanyalah kain, namun
hakekat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami

Annisa :
apa itu hakekat jilbab ?

Istri Tetanggaku :
Hakekat jilbab adalah hijab
lahir batin , hijab mata kamu dari memandang lelaki yang bukan muhrim
kamu, hijab lidah kamu dari berghibah dan kesia siaan
...usahakan slalu berdzikir kepada Allah SWT, hijab telinga kamu dari
mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk dirimu maupun
masyarakat, hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau
busuk, hijab tangantangan kamu dari berbuat yang tidak senonoh, hijab
kaki kamu dari melangkah menuju maksiat, hijab pikiran kamu dari
berpikir yang mengundang syetan untuk memperdayai
nafsu kamu, hijab hati kamu dari sesuatu selain Allah SWT, bila kamu
sudah bisa maka jilbab yang kamu pakai akan menyinari
hati kamu..itulah hakekat jilbab

Annisa :
ibu aku jadi jelas sekarang dari arti
jilbab..mudah mudahan aku bisa pakai jilbab ..namun bagaimana aku bisa
melaksanakan semuanya

Istri tetanggaku :
Duhai nisa bila kamu memakai
jilbab itu lah karunia dan rahmat yang datang dari Allah SWT yang Maha
Pemberi Rahmat, bila kamu mensyukuri rahmat itu kamu akan
diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan-amalan jilbab hingga
mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah SWT

Duhai nisa ..ingat lah akan satu hari dimana
seluruh manusia akan dibangkitkan..ketika ditiup terompet yang kedua
kali ..pada saat roh-roh manusia seperti anai-anai yang
bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas,
yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun
tumbuhan, ketika tujuh matahari didekatkan di atas kepala kita namun
keadaan gelap gulita, ketika seluruh seluruh nabi ketakutan, ketika ibu
tidak memperdulikan anaknya, anak tidak memperdulikan ibunya , sanak
saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa
menjadi musuh, satu kebaikan lebih berharga dari segala
sesuatu yang ada di alam ini, ketika manusia
berbaris dengan barisan yang panjang dan masing masing hanya memperdulikan
nasib dirinya, dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa
takut yang luar biasa hingga menenggelamkan dirinya, dan rupa-rupa
bentuk manusia bermacam-macam tergantung dari amalannya, ada yang
melihat ketika hidupnya namun buta ketika dibangkitkan, ada yang
berbentuk seperti hewan, ada yang berbentuk seperti syetan, semuanya
menangis..menangis karena hari itu Allah SWT murka.. belum pernah
Allah SWT murka sebelum dan sesudah hari itu. hingga ribuan tahun manusia
didiamkan Allah SWT di padang mahsyar yang panas membara hingga
Timbangan Mizan digelar itulah hari Hisab..

Duhai Annisa bila kita tidak berusaha untuk
beramal di hari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab bila kita disidang
oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang
Maha Agung. Allah SWT . Sampai disini aku baca diarynya karena kulihat
berhenti dan banyak tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
Subhanallah.. kubalik lembar berikutnya dan kulihat tulisan : kemudian
kulihat tulisan kecil di bawahnya buta, tuli dan bisu.. wanita yang tidak pernah
melihat lelaki selain muhrimnya, wanita yang tidak pernah mau mendengar
perkara yang dapat mengundang murka Allah SWT, wanita tidak pernah
berbicara ghibah dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia-sia

tak tahan airmata ini pun jatuh. Semoga Allah SWT
menerima Adikku di sisinya..Amin
Subhanallah ..aku harap cerita ini bisa menjadi
iktibar bagi kita semua.

Wassalam...

===================================
[:-) "Your Smile Will Make World Peace"

"Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah
shalawat dan salam untuk
Rasulullah"


-- "Saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya"
"Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai..."

translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Statistik Blog

Chat Blog


ShoutMix chat widget

Followers

Template by:

Free Blog Templates